<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476</id><updated>2012-01-18T05:59:57.596-08:00</updated><category term='kisah'/><category term='obituari'/><category term='fiksi'/><category term='kenangan'/><title type='text'>-percayalah-</title><subtitle type='html'>semua pasti akan datang jika sudah saatnya dan pada waktu yang tepat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-4235711384823846041</id><published>2010-10-30T10:22:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T10:22:46.752-07:00</updated><title type='text'>-percayalah-: Tentang Mas Wawan</title><content type='html'>&lt;a href="http://goresansaya.blogspot.com/2010/10/tentang-mas-wawan.html"&gt;-percayalah-: Tentang Mas Wawan&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-4235711384823846041?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://goresansaya.blogspot.com/2010/10/tentang-mas-wawan.html' title='-percayalah-: Tentang Mas Wawan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/4235711384823846041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=4235711384823846041' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4235711384823846041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4235711384823846041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2010/10/percayalah-tentang-mas-wawan.html' title='-percayalah-: Tentang Mas Wawan'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-2247030126225772532</id><published>2010-10-30T09:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-30T10:36:55.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obituari'/><title type='text'>Tentang Mas Wawan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mas Wawan demikian kami biasa memanggilnya. Lelaki ramah dan kebapakan itu, siapa sangka dia pergi begitu cepat. Kabar yang ku dengar malam itu, dia terjebak di lereng merapi. "Ya Allah, selamatkan Mas Wawan," batinku ketika itu. Aku mengambil ponsel, menelepon Mas Wawan, tapi operator yang menjawab telpon itu. Akhirnya aku mengirimkan pesan untuknya. Namun bukan balasan Mas Wawan kudapat. Pesan pendek dari redaksi datang, mengabarkan kepulangan Mas Wawan yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Wawan, aku terkejut ketika melihat nama Yuniawan Wahyu Nugroho kembali terpampang di salah satu berita vivanews dan inisial ‘YWN’ sebagai editor akhir berita.  "Mas Wawan kembali," batinku. Aku sempat menanyakan itu pada seorang kawan dan dia bilang,"Iya Mas Wawan balik," katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang Mas Wawan kembali, sebab nyaris tidak ku temui sosok seperti dia. Kata seorang kawan, Mas Wawan itu ngemong dan aku membenarkannya. Dia tidak pernah menunjukkan kesalahan kita dengan emosi dan amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat Mas pengalan-penggalan obrolan kita setelah kepergianmu dari VIVAnews tahun 2008 lalu. Dan kau sempat pulang ke Ambarawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ternak, Dit di sini (Ambarawa), mampirlah kalau lewat Ambarawa,” ujarmu melalui situs jejaring sosial&lt;br /&gt;Pernah pula kamu bertanya, apa aku masih bertahan di VIVAnews. Aku pun menjawab,”Belum ada yang lebih baik, Mas,”&lt;br /&gt;Apa kata Mas Wawan?  “Ya, besok kalau aku bikin koran sendiri, kamu tak ajak, ya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kita bertemu lagi Mas, sekembalimu ke VIVAnews bulan puasa kemarin. Kamu menyapaku dengan riang."Masih liputan di kejaksaan? kok tambah kusut," komentar Mas Wawan, malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tertawa mendengar komentarmu malam itu, Mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan besar. Itu perasaan yang aku rasakan begitu melihat SIM A ditunjukkan di salah satu stasiun televisi,” Atas nama Yuniawan Wahyu Nugroho, “ aku langsung terdiam sedih. Sampai pagi harinya, pesan masuk berdatangan, menanyakan perihal kepergianmu. Aku tak bisa menjawab panjang, hanya ku jawab.”Iya,”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kehilanganmu mas. Dan aku kehabisan kata untuk mengungkapkan rasa kehilangan. Membaca akun Facebook Mas Wawan, membuat makin sedih dan kehilangan. Anak Mas Wawan, di salah satu wall menulis,"Bapak Masih Ada,".. Iya Nduk, Bapak masih ada, di hati kita, Bapak selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Jalan Mas Wawan. Beristirahatlah dengan tenang di sana. Kata seorang kawan,"Semoga kamu tersenyum di sana melihat kami.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-2247030126225772532?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/2247030126225772532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=2247030126225772532' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/2247030126225772532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/2247030126225772532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2010/10/tentang-mas-wawan.html' title='Tentang Mas Wawan'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-5897804595890017195</id><published>2009-04-13T23:23:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T23:24:12.131-07:00</updated><title type='text'>P-A-R-D-I</title><content type='html'>Pardi. Namanya sederhana bukan? hanya terdiri dari lima huruf. Tak ada yang tahu siapa dia. Seingat saya nama Pardi adalah dosen kawan saya. Tapi ini bukan dia. Pardi dia calon anggota Dewan Perwakilan Daerah wilayah Jakarta. &lt;br /&gt;Sekawan saya tak tahu siapa Pardi. Ketika perhitungan kawan-kawan cuek. Kami hanya mengangguk diselingi canda ketika nomor urut Pardi disebut. Kala itu kami tak tahu siapa siempunya nama di nomor 31. Usai penghitungan suara kami melihat siapa yang punya nama. &lt;br /&gt;Ternyata Pardi yang punya nama. ''Siapa dia?'' tanya seorang kawan wartawan online juga. Aku hanya mengangkat bahu. ''Nggak tahu,'' kataku. Aku melempar pandangan pada kawan, wartawan online juga. Sama! dia juga menggeleng. Kami penasaran siapa Pardi. ''Lihat saja di daftar pemilih pasti ada siapa Pardi,'' usul satu di antara kami. Penasaran, kami melihat siapa Pardi. &lt;br /&gt;Foto Pardi buram. Sekilas wajah Pardi terlihat tirus. Lelaki dalam foto hitam putih mengenakan peci hitam. Lantas siapa Pardi? kawan yang biasa liputan politik juga tak tahu. Hebat sosok Pardi ini menyisihkan AM Fatwa. Di Cendana, tempat saya liputan tanggal 9 kemarin, Pardi unggul satu suara di atas Fatwa. &lt;br /&gt;Apa mungkin Pardi unggul karena dia ada diurutan 31? yang notabene sama dengan nomor urut partai politik pemenang sementara?sebuah kebetulan atau memang Pardi sudah dikenal oleh masyarakat?kata Kawan saya, aneh, karena dia sama sekali tak pernah melihat poster Pardi. ''Nggak ada di pohon-pohon nama Pardi,'' kata kawan saya itu. Kawan saya yang punya rambut jabrik justru bilang,''Kalau yang ini wajar, dia cantik,'' kata dia menunjuk calon anggota DPD diurutan buncit. Kebetulan si calon adalah perempuan dan berparas ayu. &lt;br /&gt;Sesampainya di kantor, orang-orang Kantor, bilang siapa Pardi?ternyata dia menang di banyak tempat. Di kompleks menteri, Widya Chandra, Pardi duduk di urutan ketiga. &lt;br /&gt;Terakhir, kawan saya menelpon, dan bertanya.''Kamu tahu Pardi?'' saya jawab tegas, tidak saya tidak tahu siapa Pardi. Adakah yang tahu siapa Pardi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-5897804595890017195?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/5897804595890017195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=5897804595890017195' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5897804595890017195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5897804595890017195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2009/04/p-r-d-i.html' title='P-A-R-D-I'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-5221052444066899230</id><published>2009-03-03T18:22:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T18:32:31.351-08:00</updated><title type='text'>Untuk Kawan</title><content type='html'>Saya ingin sedikit bercerita tentang kawan-kawan saya. Hampir lima tahun kami bersama. Ada canda di antara kami. Tak jarang amarah juga mewarnai hari-hari kami. Ini mereka, sahabat terbaik saya:&lt;br /&gt;Endang Artiati Suhesti&lt;br /&gt;Hai Sobat mungil apa kabarmu? Hesti yang selalu ceria kapan&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt; saja dan di mana saja. Unik bersahabat dengan mantan kepala sekolah Ekspresi ini. Ide gila selalu hadir tatkala kami menyusuri karangmalang bahkan Jogja. Kegilaan kami terakhir adalah berkelilimg Jogja dengan Trans Jogja. Meski usai itu kami langsung melahap sop panas karena perut kembung. Yah, Hesti yang ceria tapi tak banyak cerita tentang dirinya. Seperti bermain puzzle untuk tahu siapa Hesti, sekeping demi sekeping. Malu tak pernah ada ketika bersama Hesti. Terima kasih sayang, aku selalu merindukan saat kita menghabiskan senja di tangga rektorat. Semoga ada waktu kita bisa mengulang kembali masa-masa itu.&lt;br /&gt;Meirly Natianessy&lt;br /&gt;Ingin mode baju terbaru? ajak saja dia. Nessy, mau belanja-belanja?hehe dialah jagonya. Di antara kami dialah yang paling banyak tahu tempat paling tersembunyi sekalipun. Untuk satu kata, barang murah! Saat ini dia sedang memperlancar Bahasa Inggrisnya, di kota kecil belahan timur Pulau Jawa. Banyak2 makan roti Nes, biar selancar bule. Nessy, diskusi antara kita selalu menjadi pelajaran buat aku. Memandang bagaimana seharusnya persekawanan itu diolah. Bagi siapa saja, tak melulu aku dan kamu.&lt;br /&gt;Dhian Hapsari&lt;br /&gt;Hai cantik! bicara soal sastra dan yang mbulet-mbulet dia fasih. Dhian, perselisihan kadang menjadikan dua orang lebih dekat. Justru dari situlah kita bisa tahu satu sama lain. Dhian, baru saja dia rampungkan studinya. Wartwan handal dan tangguh yang pernah ku kenal. Nekat itu prisnsip hidupnya. Selarik kisahmu membuat mengerti bagaimana menghadapi orang nekat!hahaha, thx cantik atas pelajaran hidupnya. Kapan kau traktir aku secangkir kopi lagi di pinggiran gajah wong?&lt;br /&gt;Ike Munandari&lt;br /&gt;Ibu dari Aulia Nisa.Perempuan hebat yang pernah aku kenal. Sabar menghadapi situasi berat sekalipun. Tak pernah hilang dari ingatan ketika kita harus menyiapkan sejuta alasan kala pulang malam. Atau ketika kamu berada dipersimpangan. Ike, kini sudah kau temukan kepingan jiwamu. Bukan dia kan yang pernah membuatmu menangis.Kepingan jiwamu Sahabat kami juga, PribowoWicaksono.&lt;br /&gt;Ya, Pribowo Wicaksono filsuf muda penuh cita-cita. bowieee...meski ucapanmu sarkas tapi membuat orang tahu. Ide-ide gilamu, atau kamus bahasa yang nyaris jebol saking kerapnya kau buka. Masihkah kerbau dan ular jadi sahabatmu. Tak pernah lupa saat kita menyusuri bersama jalanan kampus untuk media. Aku merindukan petikan gitarmu bersama suara Muhammad Safrinal Lubis yang melantunkan cikal.&lt;br /&gt;Safrinal Lubis&lt;br /&gt;Wartawan desk ollahraga Jurnal Nasional. Selalu diam. Sekali berkoar minta ditraktir. Senyum dingin yang dulu kau berikan sontak berubah ketika kamu dimuat di harian ibu kota. Atau ketika kau tiba-tiba mengajak sholat berjamaah. Tak pernah lupa Inal ulah nakalmu membuat cover EXPEDISI atau ketika kamu membuat merah padam pimpinan proyek kita tercinta&lt;br /&gt;Iswara Noor Raditya Akbar&lt;br /&gt;Halo Pimpro, bagian dari sekrup kecil atau besarkah kamu sekarang? saat ini dia memilih jadi penulis lepas sembari merampungkan skripsinya. Tapi dia tetap ada keinginan jadi wartawan. Uhm..rekan kerja paling tangguh. Tak pernah jera berpatner bersama dia meski tahu kejelekan sifat masing-masing. Kangen kembali bekerja bersama dia saat kami harus berselisih ide. Tapi bukannya perbedaan itu indah Iswara?kapan ya Is, kita bisa mengulang masa-masa itu. Ketika kita berputar Jogja untuk mencari percetakan buka di malam hari bersama empat buah disket di tas. Semangat buat skripsinya. Ku tunggu kau di sudut semanggi!&lt;br /&gt;Hajar Nursetyawati&lt;br /&gt;Persinggungan kita di awal 2006 membuat kita lebih dekat. Pelabuhan bercerita ketika hati gulana. Hajar waktu singkat dua tahun kita satu kepengurusan mengesankan kamu adalah perempuan hebat. Hajar yang mudah bereaksi terhadap sesuatu hal. Yah, itu tandanya kamu tanggap Jar pada sekitarmu. Bukan cuek atau nggak nggeh seperti apa yang seing kau katakan padaku. Hajar waktu terus berjalan jam kamu sudah ganti atau masih karet?tak lupa Jar saat kita harus berkejaran dengan sapi-sapi di Piyungan. kangen momen2 seperti itu.&lt;br /&gt;Eka Wahyu Pramita&lt;br /&gt;Halo panjang.apa kabar? sobat kami yang paling peka. Dia jeli melihat perubahan kawan-kawan. Meski hanya satu jerawat muncul di sudut bibir. Eka kapan kita mengulang perjalanan Jogja Surabaya lagi? di atas sancaka banyak cerita yang kita tuturkan. hehehehe atau kapan kita mengulang makan mie instan di kosmu usai kehujanan? memaknai pertemanan itu tak hanya aku dan kamu, tapi juga dia dan mereka. bukan begitu ibu redaktur pelaksana?&lt;br /&gt;Abdulrahman Fauzi&lt;br /&gt;Kiai gendeng kami. Ya, dia Fauzi. Selalu saja punya banyak cerita dan bualan. Us....kapan kamu insyaf tidak lagi membual.heehe. dia satu-satunya redaktur yang pernah menulis ihwal mistis di EXPEDiSI. Kapan Us kita jalan-jalan naik ambulans. Rasanya sudah bertahun-tahun kau janjikan itu pada kami.&lt;br /&gt;Soenarno&lt;br /&gt;Mas Imut ayah dari Fara. Seorang kawan yang memutuskan menikah muda setelah Bowo. Seorang yang tenang dan tidak ambisius. Tapi tulisan dia setajam pisau. Mas Narno yang setiap sore bersiap berangkat ke TPA bareng Hesti. Mas, sekarang kau antar anakmu ya?hehehhehe&lt;br /&gt;David Adinata&lt;br /&gt;Awalnya dia satu kongsi dengan Inal. Tapi di tengah perjalanan dia memilih jalan hidupnya sendiri. David yang mahir layout dan produksi. David kapan kau traktir aku lagi semangkok mie ayam di felix?bersama segelas es degan juga boleh. &lt;br /&gt;* di manapun kalian selamat berproses.Perjalanan kita dulu adalah bagian dari jalanku saat ini. Terimakasih semua. Suatu hari kita akan berkumpul lagi bersama di atas rumput beralas tikar lusuh. Segelas teh hangat dn sebungkus nasi kucing boleh juga. Suatu saat ya kita ciptakan momen itu atau datang tak terduga. Semoga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-5221052444066899230?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/5221052444066899230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=5221052444066899230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5221052444066899230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5221052444066899230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2009/03/untuk-kawan.html' title='Untuk Kawan'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-7427441606004185251</id><published>2008-11-19T09:25:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T09:30:11.491-08:00</updated><title type='text'>aku ingin</title><content type='html'>Aku ingin berlibur, itu saja.  Melepas penat di otak dan menyandarkan kepalaku di bahumu sejenak saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-7427441606004185251?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/7427441606004185251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=7427441606004185251' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7427441606004185251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7427441606004185251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/11/aku-ingin.html' title='aku ingin'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-8484465825919565275</id><published>2008-10-27T06:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T06:41:30.550-07:00</updated><title type='text'>Menjelang Pengumuman Eksekusi Imam Samudera</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kejaksaan Agung telihat ramai Jumat pagi. Tak biasanya satu truk mobil polisi besar nyanggong di sana. Saya datang lebih pagi dari biasanya. Pukul delapan lebih sedikit. Dua stasiun TV siap dengan mobil beserta peralatan lengkap untuk siaran langsung. Terang saja,  hari itu wartawan dijanjikan untuk mengetahui kapan tepatnya tiga bomber Bali itu dibedil.&lt;br /&gt;Menjelang siang, wartawan bertambah ramai.Bukan saja wartawan yang biasa nyanggong di Kejagung tapi juga mereka yang ada juga wartawan asing lain. Jam10 waktu yang dijanjikan.Sejumlah stasiun televisi sudah bersiapmemasang tripod kamera.Namun mereka harus menelan kekecewaan. Pasalnya jadwal konferensi pers diundur ba'da Jumatan.MAu tak mau mereka harus rela menunggu.&lt;br /&gt;Lepas sholat Jumat, para kuli tinta sudah berjejaldi depan gedung utama Kejagung.Padahal pintu belum dibuka. Miriporang berubut masuk pintu bioskop,padahal tiket sudah digenggaman.&lt;br /&gt;Tak biasanya pula,konferensi pers di kejaksaan menggunakan gedung utama. Sebelum masuk setiap wartawan diperiksaisi tas dan harus melaluli pintu detektor. Khawatir ada yang membawa bom barangkali. Baru kali itu saya meliput dengan wartawan segambreng alias ratusan. Pokoknya kalah deh lapisannya wafer tango..sekian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-8484465825919565275?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/8484465825919565275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=8484465825919565275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8484465825919565275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8484465825919565275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/10/menjelang-pengumuman-eksekusi-imam.html' title='Menjelang Pengumuman Eksekusi Imam Samudera'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-1847983596992777325</id><published>2008-10-27T06:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T06:28:41.375-07:00</updated><title type='text'>lagi-lagi jurnalis (1)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir dua bulan saya menjalani lagi kehidupan sebagai jurmalis. Berbeda dengan sebelumnya, saya bekerja pada print media ini kali saya bekerja pada online media. Hampir mirip memang tapi tetap saja sistem kerjanya berubah. Saya tak wajib pulang kantor usai liputan.Hanya saja seusai wawancara bergegas melapor ke kantor untuk mengirim ada apa berita hari ini.Bukan saja kecepatan yang dituntut tapi juga keakurasian data. Belum lagi harus bersaing dengan media online yang lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pertama saya di media online ini,saya mendapat jatah di DPR.Tak urung isu-isu politik harus saya ikuti dan saya perdalam. Akibat tak mengerti isu bisa salah menyampaikan berita. Di gedung wakil rakyat itu saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak wakil rakyat. Di gedung itu sangat gampang meraup berita.Dalam satu hari bisa delapan sampai sepuluh berita dikirim. Tak sedikit anggot dewn beradu kata, saling jual omong pada media. Yah..sulit membedakan antara yang betul-betul kritis dengan mereka yang cari muka. Saya hampir tak bisa membedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kedua sampai saat ini saya mangkal alias jadi wartawan nyanggong di Kejaksaan Agung. BAnyak hal baru yang harus saya pelajari di sana. Dua minggu pertama saya seperti orang bodoh yang tak paham apa-apa. Saya mulai belajar istilah hukummulai dari inkrah sampai peninjauan kembali.hehehehhehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan di DPR,tak semua orang mau ngomomg di sini. Pasalnya memang tak semua boleh bicara pada wartawan. Hanya orang-orang tertentu yang terkadang sulit ditemui. OK.. saya tak suka berpanjang-panjang, kasian yang baca...hehehhehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-1847983596992777325?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/1847983596992777325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=1847983596992777325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1847983596992777325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1847983596992777325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/10/lagi-lagi-jurnalis-1.html' title='lagi-lagi jurnalis (1)'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-8496671914364570803</id><published>2008-09-14T02:59:00.000-07:00</published><updated>2008-09-14T03:05:00.595-07:00</updated><title type='text'>Terimakasih</title><content type='html'>Ini kali saya tak menulis panjang. Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Itu saja. Untuk semua orang yang pernah datang dan pergi dalam kehidupanku. Kalian semua punya arti yang tak bisa disamakan atau dibandingkan. Juga untuk dia yang beberapa sasi terakhir mengisi hari-hariku. Terimakasih telah mendewasakan aku dengan sikap dewasamu. Juga untuk kamu yang telah membuatku lebih paham dengan diam akutmu. Terimakasih....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-8496671914364570803?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/8496671914364570803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=8496671914364570803' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8496671914364570803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8496671914364570803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/09/terimakasih.html' title='Terimakasih'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-1334003985170247016</id><published>2008-09-02T05:46:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T06:06:56.314-07:00</updated><title type='text'>Bukan Kabar Burung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Senin pagi (1/9) adalah hari pertama saya bekerja. Tak lebih dari pukul sembilan saya tiba di kantor. Telepon selular saya bergetar, sebuah pesan masuk. Dari seorang kawan. Dia mengabarkan berita yang membuat saya cukup terkjut. Ya, pucuk pimpinan kampus tempat saya menimba ilmu mangkat. Saya masih belum percaya, tak ayal pikiran kalau teman saya iseng muncul dibenak. Ah, masa berita beginian teman saya bercanda. Coba bertanya pada teman lain. Dan dia membenarkan.&lt;br /&gt;    Saya tak bisa konsentrasi mendengar briefing pagi itu. Pikiran saya melayang, teringat pada sosok Sugeng Mardiyono. Seperti film yang berputar, saya mengingat sejumlah persingunggan saya dengan beliau. Entah berapa kali saya beinteraksi dengannya. Sosok kebapakkan tersirat dari wajah rentanya. Teringat ketika wawancara dengannya terkait kasus di kampus, dia selalu menyisipkan nasihat. Bosan memang ketika mendengar kalimat yang meluncur dari bibirnya. Tapi bagi saya, nasihatnya cukup tertanam dalam benak saya. Satu hal ya ng paling saya ingat darinya adalah mencintai keluarga. Bapak yang suka bicara panjang. Bahkan ketika hanya memberikan waktu kami untuk wawancara sepuluh menit, karena keasyikan mengobrol, samapi satu jam.&lt;br /&gt;    Di mata saya bapak adalah sosok yang mencintai keluarga. Tak heran di meja kerjanya terpampang foto keluarga. Bukan foto berukuran raksasa yang dibingkai dengan pigura mahal. Tetapi pas foto yang ukurannya tak lebih dari 4 x 6 dan ditempel di sebuah kalender meja. Foto itu pula yang terpampang di meja kerjanya ketika sudah menjabat rektor.&lt;br /&gt;    Bapak pula yang dengan sabar meladeni kami, yang terlalu centil meminta foto bersama. Masih teringat ketika wisuda Hajar, bapak bersiap sholat Jumat. Kami mencegat bapak dan meminta foto bersama. Tanpa ragu bapak mengiyakan. Seorang pimpinan yang bersahaja. Tak perhah lupa mengingatkan kami  Sapta Guna UNY. Sepertinya lebih dari dua buku  bapak berikan kepada saya tentang Sapta Guna UNY.&lt;br /&gt;    Meski sering saya tak sepakat dengan kebijakan bapak atau dengan jalan pikiranmu. Saya kehilangan, sosoknya. bersahaja, kebapakan, dan cinta keluarga. Satu hal lagi, sangan sistematis ketika melakukan perencanaan kampus. Barangkali ilmu matematika yang kau kuasai turut berpengaruh. Kabar yang kuterima pagi itu ternyata bukan kabar burung. Saya kehilangan seorang bapak.  Selamat jalan Bapak. Awal puasa ini semoga menjadikanmu khusnul khotimah!&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-1334003985170247016?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/1334003985170247016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=1334003985170247016' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1334003985170247016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1334003985170247016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/09/bukan-kabar-burung.html' title='Bukan Kabar Burung'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-8062424071010827026</id><published>2008-07-25T00:46:00.000-07:00</published><updated>2008-07-25T00:51:10.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kenangan'/><title type='text'>Saya memutar lagu ini (lagi)</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;"Rasa sesal di dasar  hati diam tak mau pergi..haruskah aku lari dari&lt;br /&gt;kenyataan ini. Pernah ku mencoba tuk sembunyi namun senyummu tetap mengikuti." &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masih teringat dalam ingatan saya. Ketika kali pertama mendengar lagu ini di tape butut milik rektorat kampus. Dari sebuah kaset entah milik siapa. Lagu ini begitu memikat hati saya. Penyanyi legendaris, Iwan Fals, yang membawakannya.  Entah mengapa saya menyukai lagu ini, sesuai dengan suasana hati ketika itu rasanya tidak. Tapi saya begitu menikmatinya. Sampai-sampai saya memutarnya tidak hanya sekali. Tak urung saya mendapat protes dari kawan-kawan, sebab saya terus mendengarkan tanpa membiarkan Bang Iwan menyanyikan lagu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti siang ini, ketika seorang diri di rumah. Bosan berceloteh dengan kawan di dunia maya. Sauya cari file lagu ini dan memutarnya kembali. Meski tak sesuai dengan suasana hati, tapi ya, siang ini saya ingin kembali mendengar alunan lagu ini. Cikal.  putri Iwan Fals mengatakan, dalam sebuah acara TV beberapa tahun silam, lagu ini adalah lagu paling romantis ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Entah kapan terakhir kali saya dengar lagu ini .  Yang Terlupakan, judulnya, juga setia mengalun setahun silam. Tepatnya ketika merampungkan skripsi nada  lembut ini setia menemani malam-malamku. Dulu, ketika masih aktif di pers kampus, saya kerap mendengar Bang Iwan bernyanyi. Bukan hanya Yang Terlupakan, tetapi lagu-lagu lainnya. Tak heran ketika mengadakan acara di luar kampus, seorang kawan selalu setia memetik gitar dan suara-suara sumbang menyanyikan lagu Bang Iwan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayangnya, tahun-tahun terakhir saya di pers kampus, suara Bang Iwan makin jarang terdengar. Berganti dengan suara milik Ariel, Pasha, Maia, Baim, Once, Ian Kasela, dll (saya tidak hafal).  Tidak jarang terdengar musik keras yang memekakkan telinga. Dan tak jelas apa yang dilantunkan. Zaman telah bergulir. Kegemaranpun mulai berubah. Beringan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kadang saya mendengarkan suara Once atau Pasha. Ehmm.. yang paling baru saya kerap pula mendengar suara miliki Afgan atau siapalah penyanyi baru yang makin bejibun. Tapi bagi saya karakter suara dan lagu mereka sama. Apalagi kalau tidak bicara soal cinta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lewat lagu Bang Iwan saya melihat karakter lain. Sangat kuat bahkan. Meski bicara cinta, dia tidak memnbosankan dan tidak mendayu-dayu atau membuat orang melayang. Banyak hal yang bisa saya kenang lewat lagu-lagu Bang Iwan. Termasuk kepada dua sahabat saya yang kerap berduet di jendela secretariat pers kampus. Satu memetik gitar , sementara satu lainnya  berdendang. Lagu yang cukup absurd yang menyebutkan beberapa hewan kerbau, ular, tikus, dan harimau. Apa hubungan ketiganya? Tanya saja pada Bang Iwan.   Ah, saya memang bukan kritikus musik. Tapi siang ini saya ingin memutar kembali lagu Bang Iwan.  Itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pernah kita sama-sama rasakan. Panasnya  mentari hanguskan hati. Sampai saat kita nyaris tak berdaya. Bahawa roda nasib memang berputar. Sahabat  masih ingatkah kau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-8062424071010827026?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/8062424071010827026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=8062424071010827026' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8062424071010827026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8062424071010827026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/07/saya-memutar-lagu-ini-lagi.html' title='Saya memutar lagu ini (lagi)'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-933954183249796388</id><published>2008-07-24T22:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T22:43:41.067-07:00</updated><title type='text'>Tetralogi Burton</title><content type='html'>Saya agak terlambat mengirimkan pesan selamat hari lahir untuk Ataka. Tepat sehari setelah hari H. Buka lupa, saya ingat betul Kamis (24/7) adalah hari lahirnya. Saya sampaikan ucapan lewat sebris pesan pendek. Dia membalasnya. Dalam pesannya dia berujar bahwa dia sedang menyelesaikan sekuel ketiga trilogi Skinheald. Bukan itu saja, sosok mungil itu bernecana untuk menjadika buku tersebut menjadi tetralogi. Tetralogi Burton barangkali itu nama yang tepat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-933954183249796388?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/933954183249796388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=933954183249796388' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/933954183249796388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/933954183249796388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/07/tetralogi-burton.html' title='Tetralogi Burton'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-6988159484578291900</id><published>2008-07-21T21:30:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T22:26:52.699-07:00</updated><title type='text'>Tentang Anak</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika ada yang bertanya masa depan bangsa ada pada siapa? ehmm....jawabannya pasti bukan pada pemimpin bangsa ini. Bukan pula pada para wakil rakyat. Jawabannya masa depan bangsa ini terletak pda anak-anak. Ya, di pundak merekalah terdapat masa depan bangsa. Pertanyaan selanjutnya apa iya hak anak-anak selama ini sudah terpenuhi? barangkali iya untuk anak-anak yang berkecukupan. Lantas bagaimana dengan anak yang masih kekurangan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Miris rasa hati ini melihat anak yang belum cukup umur harus berkawan matahari di perempatan jalan meminta. Kadang dengan alat musik alakadarnya. Tanggungjawab siapa anak-anak ini, jika di tangan merekalah bangsa ini kelak. Mengintip sedikit tema hari anak tahun ini &lt;em&gt;“Saya Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif” .&lt;/em&gt; Saya cukup tergelitik dengan tema itu. Apakah anak-anak di Indonesia yang berkeliran dijalanan adalah satu bukti bahwa anak Indonesia mandiri dan kreatif. Dua kata ini kiranya perlu dimakna lebih dalam lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Persoalan yang dihadapi anak Indonesia kian pelik. Lihat saja berapa juta anak Indonesia yang belum mendapat pendidikan layak. Bukan itu saja Komnas Anak mencatat lebih dari 20.000 anak mendapat kekerasan psikis dan sosial. Sementara itu tak kurang dari 90.000 anak menjadi korban trafficking. Tak sedikit pula yang dinyatakan HIV positif. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk negara seperti Indoensia. belum lagi jumlah anak yang terjerat narkoba. Lantas siapa yang patut disalahkan?  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hurlock mengategorikan usia anak antara 0-12 tahun. Masa itu adalah masa rentan bagi anak. Sebab pada rentang usia tersebut karakter seseorang mulai terbentuk. Ibaratnya pada usia tersebut karakter dan kepribadian seseorang mulai terbentuk.  Tak urung pemerintah ikut ambil bagin dalam hal ini. Ya, pemerintah kebagian jatah menggodok sistem pendidikan dan perlindungan terhadap hak mereka. Sementara orangtua bertugas untuk membentuk kepribadian mereka, tanpa menjadikan anak sebagai miniatur orang dewasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak jaminan anak yang berkecukupan bebas dari kekerasan. Mereka juga berpotensi mengalami kekerasan secara psikis. Lihat saja anak-anak yang jadi ambisi orangtua, tak selamanya mereka bisa menikmati apa yang mereka jalani. Anak-anak super dengan waktu 22 Jam harus beraktivitas di luar rumah. Porsi mereka untuk diri sendiri dan sebayanya hanya sedikit. mereka harus rela megikuti keinginan kedua orangtua. Tapi apa pernah orangtua sedikit mau megikuti keinginan anak? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang anak, dia pemain musik, usianya masih belia 11 tahun. Prestasinya cukup gemilang. rekor MURI disabetnya dengan gelar pemain termuda yang mampu memainkan empat alat musik. Selain bakat dorongan keras dan 'perhatian' ekstra dari sang Mama membuat karakter lain dari dirinya.  Anak perempuan itu terlihat dewasa sebelum waktunya. Dia cenderung acuh dengan lingkungannya. 24 jam sehari serasa kurang bagi dia. Tak heran sepulang sekolah entetan jadwal mulai dari les pelajaran sampai alat musik rutin djalaninya. Lepas pukul 21.00 dia baru  beranjak membuka buku pelajaran atau sekadar mengerjakan pekerjaan rumah dari guru di sekolah.  &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia kehilangan waktu untuk bermain dan bersosialisasi dengan sebayanya. Apakah adil untuk anak seusianya? memang dia tak mengatakan kalau dia ingin berontak. Tapi hati kecilnya pasti ingin menjadi diri sendiri. Bukan miniatur sang Mama. Anak perempuan keturunan ini hanya satu dari sekian anak yang bisa jadi menjadi korban keegoisan orang tua. Saya kira maih banyak anak lain yang menjadi korban keegoisan orangtua. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lantas anak Indonesia seperti apa yang sejati, mandiri, dan kreatif? tentunya adalah mereka yang berhasil tanpa tekanan atau paksaan dari orangtua. Pastinya pula bukan korban keegoisan orantua. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;ehmm....peran pemerintah sekarang adalah meninjau ulang sistem pendidikan di Indonesia, sudah ramahkah terhadap anak-anak? saya berandai, jikaada sekolah di Indonesia seperti sekolahnya Toto Chan.. hehehehhehhehehe di mana murid bebas menentukan kelas mana yang ingin mereka ikuti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;anyway....sekai lagi selamat hari anak nasional!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-6988159484578291900?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/6988159484578291900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=6988159484578291900' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/6988159484578291900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/6988159484578291900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/07/tentang-anak.html' title='Tentang Anak'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-5236409482781498371</id><published>2008-07-21T20:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-21T21:28:02.410-07:00</updated><title type='text'>Bermula Dari Bungkus Rokok</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;em&gt;''Rokok tidak hanya menyebabkan kanker, impotensi, atau&lt;br /&gt;gangguan janting. Rokok bisa juga melahirkan penulis hebat. Bagaimana&lt;br /&gt;bisa?''&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia belajar mengeja dari bungkus rokok. Ya, penulis cilik asal Jogjakarta ini mulai gadrung akan buku sejak usia tiga tahun. Kala itu dia masih tinggal di pelosok Banyuwangi bersama nenek dan kakeknya. Satu kali seminggu Nur Hilawah, sang ibu, datang menengok putra pertamanya itu. Ahmad Ataka Awwalurizqi. Demikian kedua orangtuanya nama. ''Ataka artinya telah datang padaku,'' tutur&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_xVYeXiq1fQs/SIVgYjgdjZI/AAAAAAAAABY/m41YA74FfUU/s1600-h/ataka2.jpg"&gt;&lt;/a&gt; Ataka menjelaskan arti namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sang Ibu sadar bahwa dirinya tidak bisa memberi banyak waktu pada Aka-panggilan akrab Ataka-. Kala itu Nur Hilawah sedang menyelesaikan kuliahnya di jurusan Pendidikan Bahasa Perancis. Setiap kali pulang dia selalu membawakan putranya oleh-oleh. Bukan makanan atau mainan, melainkan buku. Ya dari situlah Ataka mulai mencintai pustaka. Usia dua tahun Ataka disuguhi buku-buku bergambar. Tak heran setiap akhir pekan dia selalu manantikan kehadiran Mimi, panggilan Aka pada Ibunya, untuk membacakan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjelang tidur Ataka selalu minta dibacakan cerita. Bahkan ketika tidur siang. Tak jarang dia mengaku sudah mengantuk agar bisa dibacakan cerita. Tetapi Ataka mengenal huruf dari sebungkus rokok. Ya, sang nenek membuka warung kecil di kediamannya. Atak kecil sering ikut sang nenek di warung. Dari situlah dia banyak belajar huruf. Mengeja huruf yang tertera di sebungkus rokok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ataka pun semakin gandrung akan buku. Dia selalu meminta buku terbaru kepada kedua orangtuanya sebagai oleh-oleh. Dari buku bergambar beranjak ke buku cerita. Ketika Ataka duduk di bangku sekolah dasar dia mulai disuguhi buku petualangan dan seri tokoh dunia. Kelas empat sang ayah memberinya hadiah buku bergenre fiksi fantasi berjudul Harry Potter. Tak sangka Aka begitu menyukainya. Dan setip terbitan Harry Potter terbaru Taufiqurrahman, sang ayah, membelikannya. Bukan hanya Harry Potter tapi juga buku fantasi semacam &lt;em&gt;Lord of The Ring &lt;/em&gt;juga dituntaskannya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kelas Lima, Ataka tengah mengikuti ujian catur wulan. Dia telah usai megerjakan soal ujian. Tetapi dia tak bisa beranjak dari bangku. Takut menganggu peserta lain. Akhirnya Ataka memutuskan untuk mencorat-coret. ''Aku nggak bisa &lt;em&gt;nggambar,&lt;/em&gt; akhirnya ya nulis aja,'' ujar kakak dari Atya Sarah Faudina ini. Dari situlah Ataka mulai mengembangkan imajinasinya. Dia menulis dari apa yang telah dibacanya. Ataka menulis di sobekan buku tulis, dia belum bisa mengoperasikan komputer. Di sinilah Aka mulai menulis, menulis, dan menulis. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lulus sd, kedua orang tua Aka mengajaknya hijrah ke Jogja. Aka mengaku sangat gembira. Pasalnya dia bisa berburu buku-buku terbaru. Di sisi lain dia sedih harus meninggalkan kakek dan nenek yang telah membesarkannya. Ataka berhasil menjadi siswa SMP favorit di kota Jogja. SMP N 5 Jogjakarta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika beberes kamar Aka, tanpa sengaja Nur Hilawah menemukan gulungan kertas milik Aka. Dia berpikir untuk apa putra pertamanya itu menyimpan kertas yang sudah jelek itu. Hilawah membaca sekilas, dia berpikir itu adalah rangkuman buku yang usai dibaca Aka. Dia nyaris membuang gulungan kertas itu. Tapi niat tersebut diurungkannya. ibu tiga anak ini menyisihkannya ke dalam sebuah kardus. ''Nanti kalau Aka mencari,'' pikirnya ketika itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Betul dugaan Hilawah. Ataka kehilangan benda yang baginya sangat berharga itu. Aka meminta dan menyimpannya kembali. Hilawah heran, dia bertanya untuk apa Aka menyimpan, toh dia sudah punya bukunya. Ataka mengelak dia tak memberikan alasan. Ketika Aka tertidur, Hilawah mencoba membuka buku koleksi Ataka dan membacanya. Ya, tulisan dalam gulungan kertas itu memang bukan rangkuman tetapi tulisan orisinil putra pertamanya. Sejak saat itulah dia mulai tahu bakat Aka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ataka mulai dikenalkan dengan seorang sastrawan muda M. Fais Ahsoul. Dari saran Faislah Ataka mulai memindahkan cerita. Dari gulungan kertas yang diikat dengan karet gelang itu ke komputer. Cerita yang ditulis Aka semakin berkembang. Pengalamannya semasa di Banyuwangi tak pelak menjadi inspirasi baginya. Situasi desa tempat tinggalnya menjadi setting awal dalam novel perdananya &lt;em&gt;Misteri Pedang Skinheald I&lt;/em&gt;. Sebelum menulis Ataka menyiapkan kerangka terlebih dahulu. Tak tanggung-tanggung. Dia menyiapkan trilogi untuk novelnya ini. Berbagai referansi dia pakai untuk memperkuat alur ceritanya. Mulai dari buku pintar sampai ensiklopedi. Beberap bagian dari novelnya diakui oleh Aka memang terinspirasi dari buku lain. Salah satunya Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Ataka juga terinspirasi dari penulis tetralogi Pulau Buru ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ya, Ataka adalah satu contoh anak Indonesia yang kaya akan imajinasi dan kreativitas. Dia bukan saja pintar dalam menulis. Kejuaraan olimpiade Fisika pun dia ikuti semasa SMP. Meski tak membawa emas, dia mempersembahkan perak untuk Jogjakarta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika melihat sosoknya tentu tak akan percaya. Bahwa sosok mungil ini memiliki segudang prestasi. Gaya bahasanya masih lugu khas anak-anak. Logat Jawa Timuran masih melekat kental pada diri Aka. Meski demikian Aka adalah figur bagi kedua adiknya. Layaknya remaja seusia Aka dia menyukai permainan &lt;em&gt;game&lt;/em&gt; dan film. Di hari libur dia bisa menghabiskan enam film sekaligus. Tiga hal yang tak bisa lekang dari proses kreatif Aka: buku, film, dan game. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;24 Juli nanti Ataka genap berusia 16 tahun. Saya ingin ucapkan selamat hari lahir untuk Ataka. Terus berkarya untuk Ataka, meski pada nukilan tayangan Kick Andy beberapa waktu lalu dia mengatakan bahwa penulis bukanlah cita-citanya. Terimakasih pula untuk Ataka, yang bersedia saya rusuhi hampir satu tahun. Dialah yang telah mengantar saya ke gerbang sarjana. Kata seorang senior saya di pers kampus,'' Seorang anak kecil mengantarkanmu jadi sarjana.'' &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ataka berulang tahun tepat sehari setelah hari anak nasional, yang jatuh pada 23 Juli. Lewat momen ini semoga akan lahir Ataka-ataka lain. Kelak anak bangsa tak lagi rabun akan buku. Selamat Hari Lahir Ataka! dan Selamat Hari Anak Nasional! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-5236409482781498371?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/5236409482781498371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=5236409482781498371' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5236409482781498371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5236409482781498371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/07/selamat.html' title='Bermula Dari Bungkus Rokok'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-1446930484843978919</id><published>2008-07-14T06:13:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T06:21:12.645-07:00</updated><title type='text'>DIA dan KAHURIPAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nekat! Mungkin itu kata yang tepat melekat pada diriku saat ini. Meski orang tuaku melarang aku tetap berangkat ke Bandung, dengan logistik yang termasuk mepet, Aku memutuskan untuk tetap berangkat  apapun resikonya aku siap menanggung.  Harapan yang bersemanyam dalam hati, dengan kepergianku ke Bandung semua kekesalan yang mengendap dapat mencair kemudian terserak sepanjang perjalanan Jogja-Bandung.  Kahuripan yang membawaku menuju ketenangan dipenuhi sesak oleh beragam manusia, pun dengan kepentingan mereka.&lt;br /&gt;            Peliut tanda kereta siap berangkat dibunyikan, aku bersiap membuang semua kepedihan yang sudah beberapa kala terendam dalam hati. Tidak semua manusia yang bejejal dalam kereta ini duduk rapi di kursi yang tersedia. Sebagian harus rela melantai, karena kursi-kursi sudah dipenuhi oleh puluhan manusia lain. Pun dengan aku. Satu jam pertama mengawali lamunan panjang. Tidak mudah bagiku untuk mengambil keputusan ini selaih harus berperang dengan orang tua, aku juga harus berperang dengan kata hatiku sendiri. Seorang pedagang nasi bungkus membangunkan aku dari lamunan “Nasi ayam, Mbak dua ribu,”tawarnya padaku seraya menyodorkan bungkusan nasi itu ke mukaku, aku menggeleng dan pada detik lain aku kembali hanyut pada alam pikirku.&lt;br /&gt;            Masih Ia yang menjadi beban pikirku saat ini , sekaligus menjadi penyebab utama aku mengambil keputusan untuk nekat pergi, meski yah itu tadi aku harus berperang dengan orang tua juga hati kecilku. Entah setan mana yang merasuki jasadku saat itu, reflek aku merogoh saku celana, mengambil HP dan menulis sebaris kata di sana&lt;br /&gt;Di, sekarang aku dalam perjalanan menuju Bandung, aku pergi, selamat tinggal Jogja, Kamu baik-baik, jangan nakal jangan lupa ISHOMA…&lt;br /&gt;Dan ibu jarikupun memijit tombol OK! Pesan terkirim detik itu juga  padanya. Aku sendiri tak habis pikir merutuki diriku sendiri, betapa bodoh dan tololnya Aku, dia yang membuatku mengambil keputusan untuk pergi, tetapi mengapa aku harus mengirim pesan padanya.  Aku percaya, tak akan ada balasan tertuju padaku, aku pecaya itu.  Ada perasaan kecewa bercampur sesal saat itu, namun segera kutepis jauh-jauh, kunikmati saja perjalanan ini, meski aku harus membayar mahal semua.&lt;br /&gt;            Mentari Kota Kembang menyambutku. sebuah angkot merah mengantarkan aku pada sebuah pondokan kecil sebagai sarana bagiku beristirah. Pagi menjelang siang sebuah pesan masuk demikian bunyinya&lt;br /&gt;            Say, katanya kamu ke Bandung ya? Ada apa ? Sama siapa aja? (Dia)&lt;br /&gt;Aku terkejut, “Sialan ganggu orang tidur saja!”rutukku dalam hati. Kujawab pesan itu apa adanya, tanpa basa-basi sedikitpun.&lt;br /&gt;            Ada kongres, sama teman-teman.&lt;br /&gt;Kemudian setelah itu tak ada lagi pesan dari Dia masuk. Bagus itu akan membantuku untuk melupakan dia.&lt;br /&gt;            Melupakan Dia, ternyata tidak semudah yang kukira banyak hal yang memaksaku mengingatnya lagi. Seperti siang itu sebuah sosok tiba-tiba saja datang di sampingku, aku memang mengenalnya tapi sudah lama kami tak bersua, dia datang dan duduk disampingku. Sosok itu memang tak banyak bercakap, persis ketika aku mengenalnya beberapa bulan lalu.  Tetapi ada kesamaan antara Sosok itu dengan Dia, mereka sama-sama punya nama yang sama. Kontan saja dalam pikirku terbersit untuk menghindari Sosok itu dan menjauhinya, namun di detik lain aku sadar, Dia dan Sosok itu adalah dua insan yang berbeda hanya sebuah kebetulan belaka mereka punya nama sama.    Malam, menurut seorang kawan baikku adalah negeri imajinasi. Ada benarnya juga kata Kawanku itu seperti malam ini bersama sehimpun kawan baru aku menyusuri jalanan kota Bandung yang masih tampak ramai meski hari sudah makin larut. Semua membisu, asyik dengan pikiran kami masing-masing. Yang ada dalam pikirku hanya bagaimana cara untuk melepas bayang-bayang Dia dalam hidupku.&lt;br /&gt;Malam semakin larut udara dingin mulai menyergap dan menggigit tulang belulangku. Acara yang ku ikuti masih saja berlangsung.  Baju hangatku ada di atas, enggan rasanya kaki ini melangkah naik. Akhirnya kubiarkan saja dingin mengigit tulangku. Beberapa aktivis mulai berkoar di depan beradu pendapat juga mempertahankan ego masing-masing. Beberapa lagi malah asyik ‘bercinta’ dengan apa saja yang mereka sukai, entah itu buku, koran, catatan harian, bahkan ada di antara mereka yang telah terbang ke alam mimpi. Pun dengan aku yang setengah menyimak jalannya persidangan, terkadang pikiranku melayang  jauh, sekali menangkap Dia, ketika sadar kutepis pikiran itu, kemudian kembali ke jalan lurus menyimak jalannya sidang, meski setengah mengantuk.&lt;br /&gt;            Ponsel ku lagi-lagi bergetar, kuraih benda itu ternyata Dia yang menghubungiku, kulirik casio biru yang melingkar dilengan kiri 00.36 mau apa Dia, tumben belum tidur! Seorang teman tertawa setengah mengejek, coba merajukku dengan berkata “Dia kangen, kali” Aku hanya tersenyum kecut mendengar selorohnya, temanku ini bisa-bisanya dia berseloroh begitu menciutkan nyaliku saja untuk melupakannya. Kemudian temanku ini kembali asyik dengan aktivitasnya semula bercengkrama dengan sesama aktivis sampai adzan subuh menjelang. Terus terang aku jengah dengan keadaan ini, mereka para aktivis asyik ngoceh dengan segudang pengetahuan yang mereka miliki, meski terkadang lucu dan tak jelas juntrungannya, beberapa temanku asyik dengan aktivitasnya masing-masing, satu orang asyik bercenngkrama dengan aktivis dari kampus demokrasi, satu lagi sedang tenggelam dalam buku yang sedari berangkat dibawanya kemanapun ia melangkah, sementara satu lagi sedang panas dingin karena sedang didekati oleh aktivis kampus putih. Sementara aku mencoba mengusir kejengahan, asyik dengan diriku dan alam pikirku, kali ini aku sepakat dengan kawan baikku itu, Malam adalah negeri imajinasi.&lt;br /&gt;            Lima hari berlalu, meski belum sepenuhnya Aku bisa juga melupakan Dia. Menjelang kepulanganku ke Jogja, ponselku berdering sebuah pesan masuk, ternyata Dia.&lt;br /&gt;Say, kamu Bandungnya dimana? Sekarang aku ada di Stasiun mau jemput kamu, pulang hari inikan? Kita pulang bareng ke Jogja, tunggu aku jangan pulang dulu, Say aku kangen tapi aku nggak bercanda. (Dia)&lt;br /&gt;Temanku tersenyum, seolah tahu aku enggan membalas pesan itu, direbut ponselnya dari tanganku, kemudian dengan lincah jemarinya menari di atas tuts ponsel, aku biarkan saja temanku membalas pesan itu, toh paling-paling Dia hanya basa-basi saja, hanya ingin meredam amarahku.&lt;br /&gt;            “Kamu bilang apa sama Dia?tanyaku pasca pesan itu terkirim pada Dia. Ia hanya tersenyum, kemudian menjawab, “Ku bilang kita ada di jalan Musthofa 68, aku suruh secepat mungkin Dia kemari, lepas maghrib nanti kita pulang Jogja.” Aku hanya tersenyum hambar tanpa arti mendengar jawaban dari temanku. “Yah, kita kita lihat saja apakah  Dia benar-benar datang atau itu hanya dimulut saja, jangan percaya bahasa SMS!”temanku satu lagi berkomentar. Sekali lagi aku hanya tersenyum hambar dan masih saja tanpa arti mendengar  komentar dari temanku itu.&lt;br /&gt;            Ternyata Dia benar-benar datang, dengan mengenakan pakaian seperti biasa, kaos oblong, celana jeans biru dengan jaket hijau kesayangannya. Meski ada guratan lelah yang kutangkap di wajahnya, Dia masih berupaya untuk tersenyum.  “Nyampe jam berapa?”Aku mencoba untuk berbasa-basi padanya, meski rasanya tak ingin kuungkapkan itu. “Jam delapan, kamu baik-baik aja kan, pasti kurang tidur!” Ia menjawab pertanyaanku kemudian diteruskan dengan melontarkan pertanyaan yang menurutku tidak memerlukan jawaban. “Kamu bisa melihat sendirikan?”ujarku menaggapi pertanyaannya. Dia tersenyum kemudian menggelengkan kepala, “Kamu nggak pernah bisa berubah!” Ia berkomentar singkat. Aku tersenyum dan tangan kanannya mengusap lembut kepalaku, seperti biasa dan Aku hanya diam saja.&lt;br /&gt;            Magrib menjelang, mendung yang sedari siang bergelayut di langit Bandung seolah mengantarkan kepulanganku. Dia ada di sisiku saat  ini, justru membuatku semakin gamang untuk melangkah. Mungkin ini saat yang tepat untuk memutuskan semua, dia menjinjing Tasku yang berisi peuyeum dan beberapa oleh-oleh khas tanpa kuminta.  Sebenarnya  dia menawarkan untuk membawakan ranselku yang menyerupai punggung kura-kura namun kutolak tawaran itu, dengan alasan aku bisa membawanya sendiri. Kereta tampak lebih lenggang, ada bangku kosong di gerbong paling belakang, cukup untuk dua orang. Aku dan Dia duduk di sana. Kereta mulai melaju, kami masih terdiam pada satu jam pertama. Menginjak jam kedua Dia memecah kebisuan ini, “Tumben diam, biasanya cerewet, Ayo say ngomong, aku kangen celotehmu!” Aku menghembuskan nafas dalam, lalu berkomentar “Di, Aku mau jujur sama kamu, Aku lelah Di dengan semua ini, terutama hubungan kita.” Kulirik dia ada pias kaget diwajahnya, lalu ia bertandas”Maksud kamu?” Masih saja dia seperti biasa, telat mengerti omongan orang. “Aku nggak bisa terus menerus dijadikan ban serep!”Aku berkata setengah membentak, sampai-sampai seorang penumpang di depanku terkejut. “Di, memangnya aku nggak tahu kamu jemput aku ke Bandung sebelumnya kamu antar Gadis Garut itukan?”tegasku pada Dia. “Dari mana kamu tahu itu?”Dia agak terkejut aku melontarkan pernyataan itu. “Kamu nggak perlu tahu, jujur Ya atau Tidak?”kucecar dia dengan pertanyaan yang langsung menhujam itu. Dia mengangguk. Dan jawabannya sudah bisa memjawab semua kebimbanganku selama ini. “Aku harus jujur sama kamu, sepertinya nggak ada guna aku sembunyikan semua ini dari kamu. Toh suatu saat nanti kamu juga akan tahu” Dia berujar tiba-tiba saja. Aku semakin tak mengerti akan omongannya, seolah mengerti kebingunganku Dia menyambung kalimatnya yang terputus,”Selama ini Aku dekati kamu, juga Gadis Garut itu hanya untuk..hanya untuk..menyembuhkan penyakitku” Dahiku berkerut semakin tidak mengerti atas apa yang diucapkannya. “Maksud kamu?”tanyaku mempertegas . “Maafkan aku, sejak lama aku merasa ada yang kurang pada diriku, Aku tidak seperti laki-laki umumnya. Aku Gay. Kamu tahu latar belakang hidupku kan? Mungkin itu penyebab awal semua ini!”Sebuah pernyataan  lugas juga jujur meluncur begitu saja dari mulutnya. “Selama ini aku mencoba menghilangkan kelainanku dengan mendekatimu juga Gadis Garut itu, tapi ternyata itu bukan hal  yang mudah dan tak semudah yang Aku bayangkan, maafkan aku jika selama ini Aku banyak menyakitimu, terlalu banyak menanam harapan padamu, maafkan aku. Jujur aku sayang kamu juga Gadis Garut itu, tapi aku tak pernah bisa untuk mencintai kalian, semua keputusan ada padamu.”kejujurannya semakin membuatku sakit dan perasaanku saat itu  bercampur, sakit karena selama ini ternyata Aku dipecundangi oleh orang yang aku sayangi,  kecewa karena selama ini aku dijadikan pelampiasan, kasihan pada diri seorang anak manusia yang ingin mengubah nasibnya. Aku hanya diam, menatapnya tajam, air mata mengalir begitu saja dari mataku ini. Adzan subuh menjelang, Kahuripanpun telah berhenti di statiun Lempuyangan. Aku tahu apa yang harus aku putuskan. Dan Kahuripan, kereta terakhir itu menjadi saksi atas keputusanku. Dia dan Kahuripan, akan kusimpan sebagai sebuah kenangan.&lt;br /&gt;                                                                                           Yogyakarta, 14 Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat seorang teman, maaf beberapa cuplikan hidupmu ku sadur dalam cerita ini.&lt;br /&gt;Untuk seorang sahabat, penggalan kisah itu kurawikan dalam tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-1446930484843978919?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/1446930484843978919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=1446930484843978919' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1446930484843978919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1446930484843978919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/07/dia-dan-kahuripan.html' title='DIA dan KAHURIPAN'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-9173727537619714194</id><published>2008-06-08T01:50:00.000-07:00</published><updated>2008-06-08T01:53:06.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>SAKSI BISU*</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama aku berdiri di tepi jalan ini. Di depanku berdiri tegak sebuah bangunan kokoh tegak menjulang langit. Lama ku tatap bangunan itu terus ku tatap berharap setiap kedipan mata bangunan itu berubah seperti sepuluh tahun lalu, tepat saat pertama kali ku injakkan kaki disini. Sia-sia ! bangunan kokoh itu, bukan lagi sebuah gedung tua yang catnya mengelupas di sisi-sisinya, apalagi Cakruk itu sudah tiada lagi. Mungkin ia telah terkubur dalam tanah bersama reruntuhan gedung tua itu.&lt;br /&gt;Ingatanku kembali pada sepuluh tahun lalu. Saat pertama kalinya aku bercengkrama dengan gedung tua itu……&lt;br /&gt;Dinginnya malam mulai menggigit tulang rusukku. Malam yang kian larut Aku duduk sendiri di Cakruk yang baru satu bulan berdiri. Tanpa kusadari berapa banyak orang yang berlalu lalang di hadapku. Entah berapa kendaraan yang melintas di depanku. Aku menunduk jika ada orang yang bertanya akan ku jawab, “Aku sedang menghitung semut yang sedari tadi hilir-mudik di depanku.” Sayang belum ada orang yang menyapaku, mungkin mereka enggan,atau bisa jadi mereka sedang asyik dengan pikirannya sendiri, sama sepertiku. Dari kejauhan ku tangkap sebuah bayangan yang perlahan mendekatiku, semula aku tak yakin, tapi bayangan itu kian mendekat aku jadi yakin, bayangan milik seorang Pram. Tanpa bicara sepatah katapun ia duduk tepat di sampingku. Asap rokok yang mengepul dari mulutnya mulai menyesakkan dada, kutepiskan asap itu dengan tangan, sebagai isyarat aku tak suka ia merokok dihadapanku. Ia tersenyum dan mematikan rokoknya.&lt;br /&gt;Satu menit dua menit kebisuan terjadi, di menit ketiga suara Pram memecah keheningan hatiku dimalam itu. Kata-kata meluncur deras dari mulutnya, aku mulai bangkit kadang aku mengiyakan perkataannya, kadang pula kutangkis pernyataannya. Dingin dan heningnya malam tak terasa lagi yang ada hanya cercauan suara Pram dan Aku. Tidak hanya suara kami saja yang memecah keheningan malam itu. Suara In, Wan, Di, dan beberapa suara yang biasa meramaikan suasana setiap malam Jumat.&lt;br /&gt;Dari situ dan sejak saat itu aku mulai temukan kepingan hidupku yang selama ini hilang. “Tidak hilang, De tapi terselip”kata-kata Pram selalu terngiang ditelingaku. Obrolan kami di depan gedung tua atau lebih tepatnya di Cakruk itu setiap malam Jumat beragam, mulai dari keseharian kami, sampai dengan masalah-masalah yang ada di sekitar kami. Sungguh satu pelajaran yang sarat akan makna bagiku kala itu.&lt;br /&gt;Waktu ia bagai air yang mengalir, terus tanpa pernah lelah dikenalnya. Lima tahun kebersamaan kami, mengingatkan kami pada masa depan yang sudah menantang di depan mata. Toga kami sandang hari itu, bahagia meski ada duka yang begitu dalam dihati kami. Bagi kami apa arti ijazah yang kami terima saat itu dibanding persahabatan yang telah erat ini.&lt;br /&gt;Hari ini terakhir kuinjakkan kaki di gedung tua, beberapa orang menyapaku ringan dan memberiku selamat. Beberapa orang tampak acuh, mata mereka menatapku tajam seolah mereka ingin mengetahui rahasia apa yang kusimpan dalam mataku. Aku bergidik ngeri, segera kupalingkan wajahku untuk menghindari tatapan mata mereka. Dan kucoba sapa wajah-wajah lainnya meski tampak sangar akan tetapi tatapan mata mereka teduh tidak setajam yang lain.&lt;br /&gt;Sejak itu aku benar-benar pergi meninggalkan gedung tua, cakruk dan kenangan liar yang tersisa di sana. Aku diterima disalah satu penerbit besar di Ibukota, aku mulai sibuk dengan pekerjaan baruku, meski tak jauh berbeda dengan aktivitasku dulu. Aku merutuki diriku sendiri yang mulai tak peduli lagi dengan kehadiran surat dari sahabat-sahabatku, terutama Pram. Tak terhitung lagi berapa kali ku tolak telpon dari Pram saat kulihat nomornya muncul dilayar handphoneku. Berapa surat Pram yang kubiarkan menumpuk di meja kerjaku dan berakhir di tong sampah.&lt;br /&gt;Sesal memang datang kemudian, entah angin apa yang membawaku untuk membuka surat dari Pram, yang sudah agak kumal. Kata kawanku, surat itu sudah tiba satu bulan yang lalu. Aku tergegap oleh isi surat Pram, yang mengatakan bahwa terjadi satu keributan di gedung tua itu, tempat kami dulu bernaung, beberapa aktivis memporak-porandakan semuanya, termasuk cakruk itu.&lt;br /&gt;Entah perasaan apa yang menyelimuti hatiku, semuanya campur jadi satu. Rasa bersalah, takut, sedih, dan sakit. Hari itu juga ku putuskan untuk pulang melihat puing-puing kehancuran gedung itu. Sepanjang perjalanan tak pernah aku berhenti untuk tidak merutuki diriku sendiri. Kesalahan terbesr yang tak pernah aku maafkan.&lt;br /&gt;Hanya dalam sekejap waktu, selama lima tahun aku pergi meninggalkan arena ini, banyak perubahan yang terjadi.&lt;br /&gt;Gedung tua yang catnya sudah mengelupas, berhias lumut liar di sisi-sisinya, gedung tua saksi bisu perubahan pada diriku, Cakroek mungil tempat lahir perubahan besar dalam hidupku telah lenyap, menghilang tanpa tilas sejengkalpun.&lt;br /&gt;Lima tahun aku tinggalkan gedung ini, selama itu juga aku jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah berhubungan dengan In, Wan, Di, ataupun lainnya tidak terkecuali Pram sekalipun. Di mana mereka, kerinduan pada mereka mulai menghinggapi hati ini. Sekala itu aku sadar aku kehilangan mereka, ingin rasanya aku berlari dari tempatku berpijak, tapi aku tak mampu, aku hanya bisa diam dan menangis, menyesali semua.&lt;br /&gt;“De….” sebuah suara mengejutkanku. Perlahan aku menoleh, setengah tak percaya dengan pengelihatanku sendiri, aku melihat kembali seorang Pram untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu.&lt;br /&gt;“Apa kabar, De?” tanyanya, tatapan matanya yang tak pernah bisa aku lupankan. Setengah terpana aku anggukan kepala, terbata-bata kujawab tanyanya “Ba..ba.baik, Kamu ?”. Dia tersenyum, tanpa ada makna yang bisa kuartikan disana. “Baik, seperti yang kamu lihat,” suaranya masih tegas seperti dulu. Kami terdiam larut dalam pikiran dan perasaan kami masing-masing. Tapi dari sorot matanya bisa kubaca disana ia menyalahkan aku yang tak pernah lagi peduli dengan semuanya.&lt;br /&gt;“Gedung tua itu Pram, Cakruk itu….semua kemana?” tanyaku perlahan.&lt;br /&gt;“Hilang, De…ia marah ditinggal kekasihnya” jawaban singkatnya begitu menusuk hatiku.&lt;br /&gt;“Ia lelah setelah sekian lama menunggu..”aku berkomentar pendek.&lt;br /&gt;“Selepas kita, makin jarang Cakruk itu diduduki, ia hanya berteman debu dan sarang laba-laba, apalagi gedung tua itu, tak ada tangan yang rela menjamahnya, yah…hanya laba-laba, tikus dan lalat yang masih setia menyentuhnya….” Suara Pram yang tadinya tegas berubah sendu. Aku semakin tidak mengeri perkataannya. Pram menghela nafas panjang, kemudian meneruskan kalimatnya “Pemberontakan itu terjadi lagi, yang kali ini justru dimotori oleh mereka sendiri perintis ramainya gedung itu, akhirnya gedung itu sepi, satu persatu penghuninya pergi tanpa tilas sedikitpun, mereka pergi dan tak pernah kembali, hanya laba-laba, tikus dan kecoa yang masih sudi menempatinya.Hingga pihak yang berwajib merehab total gedung itu, seperti yang kau lihat saat ini, De” Pram mengakhiri uraian panjangnya.&lt;br /&gt;Aku tak lagi kuasa membendung air mata, ia mengalir deras begitu saja, lepas tanpa beban. “Tak ada lagi yang tersisa Pram, semua musnah hanya kenangan antara kita, gedung tua dan cakruk itu yang masih tersimpan rapi dalam ingatan, maafkan aku Pram, aku…..” tak kuasa aku melanjutkan kalimatku.&lt;br /&gt;“Tak ada yang harus disesali, Semua sudah terlambat biar semua menjadi kenangan…. Kita buka lagi langkah baru, semua masih bisa diperbaiki.”tandas Pram padaku. “Ayo, De jangan terlalu larut dalam kesedihan kita pulang, semuanya telah menunggu”&lt;br /&gt;Perlahan Pram dan Aku meninggalkan bangunan kokoh yang ujungnya menantang langit. Saksi bisu itu telah tiada, Ia telah terkubur bersama kenangan.r&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ditulis bersama sanggar suwung di tahun 2004. Untuk mengenang gedung rektorat lama yang sebentar lagi hilang hiksss…2x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-9173727537619714194?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/9173727537619714194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=9173727537619714194' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/9173727537619714194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/9173727537619714194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/06/saksi-bisu.html' title='SAKSI BISU*'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-2099506025722453271</id><published>2008-06-06T04:41:00.000-07:00</published><updated>2008-06-06T04:58:20.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Rasanya Jadi Jurnalis (2)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bulan kedua jadi jurnalis…tepatnya 23 Januari 2008. Hari aku mulai pindah kompatermen. Kebetulan aku ditempatkan di lifestyle dan budaya. Post yang menjadi pilihan pertamaku. Dari situlah jalanan metropolis kurengkuh setiap inchinya. Aku menjalani hari-hari awalku dengan mendatangi mall satu ke mall lainnya. Pusat perbelanjaan besar mana yang belum pernah kujajaki di Surabaya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku menelusuri setiap sudut kota. Di mana da pameran lukisan pasti kudatangi. Aku datang dan ku amati satu persatu lukisan. Coba menafsirkan lewat pengetahuanku sendiri. Bak seorang kurator handal. Aku hanya mengingat ujaran seorang kawan untuk berani menafsirkan. Itu saja. Yah..namanya dunia kerja tak lepas dari intrik dan yah miss communication atau salah paham masih saja datang dan pergi. Ah.namanya hidup tak lepas dari saling intrik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi jurnalis banyak hikmah yang aku dapat. Aku mulai mengenai orang dengan berbagai karakter. Mulai dari orang yang benar-benar enggan untuk diekspos sampai orang yang narsis ingin diekspos. Di Bulan kedua aku mulai mengenal sudut kota ini. Tak urung selembar peta yang kubeli dengan harga 3000 rupiah selalu terselip di ranselku. Dan kata nyasar , salah jalan, tak tahu daerah adalah hal biasa yang aku alami. Datang telat ke lokasi liputan lantaran salah jalan alias nyasar jadi alasanku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan kota yang keras. Di sini aku mulai mengenal banyak orang. Bukan hanya nara sumber. Tetapi juga teman satu profesi. Dengan berbagai karakter mereka. Dari situ pula aku mulai mengenal sesuatu yang orang bilang ‘hadiah’. Yah..amplop. aku mulai mengenal meski tak pernah aku menggubrisnya. Aku mulai tau gerak-gerik narasumber yang bermaksud demikian. Ada yang diselipkan di antara &lt;em&gt;goody bag&lt;/em&gt;, ada pulang yang langsung dberikan tanpa tedeng aling-aling. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagiku itu adalah suatu pilihan. Menerima atau tidak. Dan jika aku memilih untuk tidak itu juga suatu pilihan. Demikian pula jika ada kawan yang memilih untuk menerima. Jyah asal bisa saling menghargai saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang membuatku semakin tahu dunia luar. Meski liputanku tidak berbau politik. Namun apa saja liputanku nyaris berbau ‘bisnis’ ah..lama kelamaan aku jengah dengan liputan macam ini. Pagi hari ketika koran terbit, sedang ada pemberitaan tidak dimuat tak jarang nara sumber menelepon untuk menanyakan kapan berita mereka dimuat. Tak jarang mereka berkata,’’Harus bayar berapa agar berita mereka dimuat?’’ Ya..sesuatu yang sangat mengangguku. JIka sudah demikian aku selalu jawab,’’ itu bukan kuasa saya, itu hak redaktur’’. Capek aku mendapat pertanyaan demikian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang pula mendapata complain lantaran salah penulisan nama. Terakhir aku mendapat complain dari orang nomor wahid di Surabaya. Lantaran aku salah menulskan penyelenggara suatu kegiatan. Caci maki aku dapat dari ibu yang terhormat itu. Uniknya setelah aku meluruskan pemberitaan itu dia berubah manis. Lewat telepon dia berkata,’’Kalau ada apa-apa jangan sungkan bertanya sama saya ya,’’ begitu dia bilang. Dasar manusia aneh-aneh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-2099506025722453271?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/2099506025722453271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=2099506025722453271' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/2099506025722453271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/2099506025722453271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/06/rasanya-jadi-jurnalis-2.html' title='Rasanya Jadi Jurnalis (2)'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-7883876609040499205</id><published>2008-05-31T02:16:00.000-07:00</published><updated>2010-12-27T05:48:32.874-08:00</updated><title type='text'>"Belajar dari Manyar"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;"Kita boleh sedih, marah bahkan membongkar segala sesuatu yang kita anggap&lt;br /&gt;gagal, namun semoga kita punya keberanian untuk memulai lagi dengan penuh&lt;br /&gt;harapan." (Larasati)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bulan September 2003 aku membeli buku ini. Di awal kuliah aku ingin membacanya. Seniorku berkata bahwa buku ini bagus dan kisah percintaannya sungguh menakjubkan. Aku bertanya kenapa novel ini cukup dikenal? Dan kenapa seniorku yang kadang rela tak makan demi buku berkata demikian. Tentunya kalau dia tak akan sembarangan berkata demikian. Aku tidak sengaja menemukan karangan Romo Mangun ini. Seingatku aku membelinya di suatu siang. Kebetulan aku dan Hesti, jjs ke Shooping center. Iseng-iseng berhadiah sebetulnya tak ada keinginan untuk membeli atau mencari buku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kala itu kami masih mengunjungi Shooping center lama, di lapak pojok paling depan, ah sayang..aku lupa apa nama lapaknya(sepertinya lapak itu banyak menjual buku-buku bagus).-Ngomong-ngomong soal Shooping Centre, nanti kita cerita panjang soal Shooping Centre yap-. Buku-buku bekas menumpuk menggoda kami berdua untuk mengacak-acaknya. Dengan semangat 45, Hesti membuka satu-satu buku yang ada di sana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tangan mungil Hesti meraih satu buku yang sudah kumal. Dia menyodorkan padaku sebuah buku dan berkata, “Novel, Dit.'' aku yang juga asyik mengacak-acak buku, menengok sekilas. “Hah Burung-burung Manyar..” aku mengambilnya dari tangan Hesti. “Aku sudah baca buku itu, setelah didongengi sama senior,bagus,” Hesti menimpal tanpa ku minta. Aku mengiyakan perkataan Hesti, meski aku belum membacanya. Ketika aku tanyakan harganya, si penjual menjawab, “Lima ribu, Mbak..” Aku bengong tanpa pikir panjang aku langsung membelinya, bersama dengan &lt;em&gt;La Barka&lt;/em&gt;nya N.H. Dini. Aku hanya membatin, si penjual dong ora kalau ini buku bagus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebuah buku yang bercerita tentang percintaan Larasati dan Seta Dewa. Keduanya memiliki perbedaan pandangan hidup. Teto memihak Belanda, sedang Atik memihak bangsa Indonesia. Keduanya terpisah, Teto memilih untuk menjadi tentara Belanda sedang Atik memilih untuk bekerja pada lembaga milik pemerintah Indonesia.Lama keduanya berpisah, suatu hari keduanya bertemu kembali. Di sebuah aula Larasati mempertahankan disertasinya. Disertasi Larasati tentang kehidupan Burung Manyar. Keduanya bertemu ketika Atik sudah bersuami dan beranak tiga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sepanjang perjalanan hidup mereka bukan berarti saling melupakan. Teto selalu ingat akan Atik demikian pula sebaliknya, Atik ingat Tetto. Apa lacur mereka terpisah oleh keadaan. Tetto lebih memihak tentar belanda smentara Atik memilih di bangsa sendiri.Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Atik dan suaminya. Itu berarti tiga anak Atik menjadi yatim piatu. Karena cintany pada Atik, Tetto merawat tiga anak Atik. Dan dia memutuskan merawat anak Atik tanpa bantuan seoroang istri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada yang menarik dari buku ini. Yakni perilaku manyar ketika meraih cinta dalam hidupnya. Seekor manyar jantan akan membuat sarang seindah-indah untuk meraih simpati manyar betina. Si manyar betina akan mencari dan memilih jantan mana yang akan ia pilih. Jika si jantan jadi yang tidak terpilih dia akan merusak sarang yang telah dibuatnya. Namun setelah itu dia akan membangun kembali sarang baru. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukan itu saja. banyak hal lain yang dapat dipelajari dari novel ini.Termasuk semangat nasionalisme dan kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Di samping bisa menghargai prinsip diri sendiri dan orang lain. Dan itulah yang terjadi pada diri Teto ataupun Atik. Tak heran jika novel ini masuk ke 100 karya sastra Indonesia terpenting sepanjang tahun 1908-2008. Bahkan majalah Tempo juga memasukkannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-7883876609040499205?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/7883876609040499205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=7883876609040499205' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7883876609040499205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7883876609040499205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/05/belajar-dari-manyar_31.html' title='&quot;Belajar dari Manyar&quot;'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-3985706554460451332</id><published>2008-05-15T22:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-15T22:06:08.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Si Wajah Tirus (1)</title><content type='html'>Sudah setengah warsa aku habiskan waktu di ibu kota. Menikmati setiap debu yang beterbangan dan menghirup kepulan asap di sepanjang ruas jalan. Aku memilih jalan hidup yang selama ini aku impikan. Setiap hatri aku harus rela beradu dengan debu dan asap. Menjajaki setiap inchi jalanan ibu kota.&lt;br /&gt;Hari ini terik matahari tak terlampau ku rasakan. Aku berada di pusat perbelanjaan. Aku melenggang seorang diri di mall terbesar di ibukota. MAtaku mencari sosok tambun si rekan kerjaku. Dia tak kunjung muncul, padahal aku sudah menghubunginya sejak pagi. Sembari menunggu aku putuskan untuk duduk di sebuah restoran cepat saji. Aku hanya memesan segelas soft drink. Tiba-tiba saja ada sebuah panggilan masuk di ponselku. Ternyata kawan lama dari sebuah kota di pesisir utara Jawa.&lt;br /&gt;Padaku kawanku berujar kalau sedang menuju ibu kota. Lebih terkejut lagi ketika dia mengatakan seorang Bay ikut serta bersamanya. Ya, Bay, sosok yang pernah hadir dalam hidupku setahu silam. Meski terkejut aku berusaha untuk biasa. Jujur aku tak bisa biasa saja. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hari. Rasa senang dan rasa benci saling beradu. Senang karena aku bisa melihat sosoknya lagi. Sesekali berharap masih ada ruang tersisa untukku di hatinya. Satu sisi aku enggan bertemu dengan dia. Itu sama saja dengan membuka luka lama. Belum lagi aku harus berpaling dari Al, seorang kawan lama yang tanpa sengaja mengisi hari-hariku.&lt;br /&gt;Lama kau termenung memikirkan hal itu. Tiba-tiba saja seseorang meneukku dari belakang. ’’Ayo kerja, jangan ngelamun aja,’’ ujar sosok tambun itu. Aku menengok, rupanya rekan kerjaku. Tanpa menanggapi ucapannya aku bergegas mengikuti langkahnya. Hari itu pun aku lewati dengan tidak tenang. Aku tidak konsentrasi merampungkn pekerjaan, terlebih kawanku dan Bay tentu saja akan bertandang ke kantorku malam nanti, selepas aku menyelesaikan tugasku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba ponselku berdering lagi. Ternyata Bay. Aku rindu suaranya. Sebuah suara yang prnah menyamankan perasaan ini. Dia bilang kalau akan mengunjungiku malam nanti. Dia memeprtegas ucapan kawannya tadi. Satu kalimt yang membuatku terkejut. Dia bertanya apa aku masih seperti yang dulu. Singkat aku jawab bahwa aku tak pernah berubah. Dia tertawa lantas mengakhiri pembicaraan kami.&lt;br /&gt;Usai menyelesaikan pekerjaan aku bergegas turun. Lima menit, sepuluh menit, Bay atau kawanku tak kuncing muncul. Aku coba menghubungi keduanya tpi hasilnya nihil. Sama-sama tak diangkat. Tiga puluh menit lebih sedikit aku menunggu. Bay tak kunjung muncul. AKu memutuskan untuk pulang saja. Barangkali aku memang tak ditakdirkan bertemu lagi dengan Bay.&lt;br /&gt;Aneh, mata ini terpejam begitu cepat. Sebuah pesan masuk di ponselku menjelang tengah malam. Rupanya Bay yang menghubungiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, capek ya pulang kerja? Sory td ktduran.Besok pagi ya qt ktm. Aku kangen!&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Bayu&lt;br /&gt;085647182459&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;19:20&lt;br /&gt;04 May 08&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mengantuk aku cuma menjawab singkat, OK! Keesokannya aku terkejut. Tiba-tiba saja Bay sudah berdiri di depan pintu pondokanku. Bay belum banyak berubah. Wajahnya masih tirus seperti dulu Badannya masih saja kurus. Pagi itu dia mengenakn kaos hitam dipadu dengan celana jeans yang sudah pudar warnyanya. Senyumnya tak banyak berubah. Dia menyapaku riang, tangannya terulur ke arahku. Tanpa piker panjang ku sambut uluran tangannya. ’’Kamu tambah cantik,’’ ujarnya. Aku tersipu tapi sudah mafhum akan ucapannya. ’’Pagi-pagi ngoombal,’’ kataku sambil menyuruhnya duduk.&lt;br /&gt;Bay duduk tepat di sampingku. Kami terdiam beberapa saat. Pandangan kami sama-sama tertuju ke arah jalanan yang maik ramai. Orang berjejal berangkat ke tempat aktivitasnya. Lama kami sama-sama membisu. Akhirnya Bay buka suara. ’’Kamu sudah makan?’’ tanyanya klise. Aku mengangguk, meski sebetulnya aku belum makan. Dia terenyu kemudia berkata lagi, ’’Jaga kesehatan, nanti kamu sakit,’’ katanya singkat. Aku hanya bisa tersenyum dan mengiyakan ucapannya. Tak lama dia mohon pamit padaku. ’’Aku pulang dulu, ya,’’ ujarnya. LAgi-lagi aku tak kuasa menolak ucapannya. Aku hanya diam dan membiarkan dia pergi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-3985706554460451332?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/3985706554460451332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=3985706554460451332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/3985706554460451332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/3985706554460451332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/05/si-wajah-tirus-1.html' title='Si Wajah Tirus (1)'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-4657817304526361811</id><published>2008-05-13T19:56:00.001-07:00</published><updated>2008-05-13T20:19:18.940-07:00</updated><title type='text'>Rasanya Jadi Jurnalis (1)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;Awal Perjalanan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;  Aku baru mengawali perjalanan hidup baru. Awal Desember 2007 tepatnya. Sebuah cita-cita yang telah lama aku idamkan tercapai sudah, jadi jurnalis. Bersama seorng kawan aku menapaki kota kedua terbesar di Indonesia. Orang bilang kota metropolis. Bukan untuk kali pertama aku jajaki kota nan semrawut itu. Beberapa kali aku pernah singgah di sana. Tapi untuk mengais nafkah di kota pahlawan itu tak terbayangkan dalam benakku. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Tiga hari pertama aku di sana, sementara aku tinggal di rumah sepupuku. Lumayan jauh dari kantor yang ada di bilangan Surabaya sebelah selatan. Di hari keempat aku mulai menempati pondokan baru yang ada tak jauh dari kantor baru. Sebuah pondokan yang ditemukan oleh seorang kawan baruku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Satu minggu aku dijejali dengan teori-teori jurnalistik: cara wawancara, menulis berita, sampai ke persoalan ejaan yang disempurnakan. Tak lupa idealisme kantor diberikan pada kami yang masih hijau ini. Satu yang aku ingat seorang pembicara mengatakan bahwa wartawan itu bukan suatu pekerjaan tapi profesi. Dan itu hanya terjadi karena panggilan hati, bukan sebab tak ada pekerjaan lin yang bisa dilakoni. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Minggu kedua aku mulai ditempatkan. Bersama seorang kawan aku kebagian pos kesehatan populer atau yang lebih dikenal dengan visite. Aku sama sekali buta tentang kesehatan. Tanpa tahu kemana harus kulangkahkan kaki ketika hari itu aku mulai terjun ke lapangan. Ada beberapa bagian yang harus ku tulis di sana. Bukan hanya ihwal kesehatan populer yang harus ku bahas secara mendetail. Tetapi juga bahasan mengenai seluk-beluk rumah, hobi dan komunitas yang ada di Surabaya. Aku juga harus berbicara tentang lika-liku seputar perniikahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;  Aku laksana makhkuk asing. Orang desa yang tak tahu seluk beluk kota besar ini. Tak tahu apa yang disukai masyarakat kota. Tak mengerti jalanan dan sudut kota ini. Sering aku menangisi diri ini. Aku bukan orang yang bodoh di sini, tapi mengapa aku seolah tak bisa berbuat banyak. Itu yang kerap ku rasakan. Ketika aku sudah bisa meraba dan mengerti. Semua telah usai. Aku mengakhiri perjalanan awalku selama 40 hari di sini.....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-4657817304526361811?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/4657817304526361811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=4657817304526361811' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4657817304526361811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4657817304526361811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/05/rasanya-jadi-jurnalis-1.html' title='Rasanya Jadi Jurnalis (1)'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-5935301037097627982</id><published>2008-05-13T19:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T19:54:44.200-07:00</updated><title type='text'>Kenapa Saya Ingin Jadi Wartawan*</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saya Fadila Fikriani Armadita. Saya biasa dipanggil Dita. Anak pertama dari dua bersaudara, saya memiliki seorang adik laki-laki. Saya dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang cukup demokratis. Kedua orang tua saya membiarkan saya dan adik saya untuk memilih apa yang kami inginkan. Mulai dari sekolah, kesukaan, organisasi, teman, bahkan sampai cita-cita. Kedua orang tua tidak pernah memaksakan kehendak bahwa saya harus jadi yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menempuh pendidikan mulai dari bangku Taman Kanak-kanak (TK), konon kata ibu saya, ketika usia empat tahun saya sudah mengenal huruf dan pada usia lima tahun saya sudah lancar membaca. Tidak heran ketika kawan-kawan sebaya saya menghabiskan jam istirahat untuk bermain, tidak bagi saya. Perpustakaan adalah tempat alternative untuk menghabiskan waktu istirahat. Sepulang sekolah saya pasti membawa pulang buku cerita. Malam harinya sebelum tidur saya meminta ibu saya untuk membacakannya padahal di sekolah buku itu sudah habis saya baca. Ketika ibu saya membacakan cerita dan ceritanya sedikit diplesetkan saya protes dan berkata bahwa bukan seperti itu ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku SD, saya mulai banyak mengenal banyak kawan-kawan. Di bangku kelas satu itulah saya mulai berpikir tentang cita-cita. Meski ketika itu cita-cita yang ada dalam benak saya adalah profesi yang saya lihat dan saya kagum pada profesi tersebut. Tidak seperti anak-anak pada umumya yang kebanyakan bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, insinyur, polisi, atau apa saja saya justru bercita-cita menjadi seorang guru, tidak heran ketika ibu guru saya pergi meninggalkan kelas saya ‘mencoba’ untuk menjadi guru di depan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengagumi sosok guru, bukan karena ibu saya seorang guru. Dari sosok guru itulah saya banyak belajar tentang apa saja. Kekaguman saya terhadap seorang guru pernah meudar ketika saya duduk di bangku kelas lima SD. Guru saya ketika itu adalah guru yang ceplas-ceplos ketika ada murid yang keliru dalam menjawab seketika itu ia mencelanya habis-habisan, bahkan tidak jarang ia memberi si murid julukan. Beruntung saya tidak termasuk murid yang diberi julukan atau mendapat umpatan. Terkadang saya merasa kasihan dan prihatin kepada kawan saya yang kerap diperlakukan tidak selayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di bangku sekolah dasar itulah cita-cita saya seringkali berubah-ubah. Satu yang paling saya ingat, saya bercita-cita untuk menjadi seorang wartawan. Saya kerap melihat di televisi, seorang reporter melaporkan peristiwa, atau seorang reporter yang tengah mewawancarai pejabat negara. Dari situlah keinginan saya untuk menjadi wartawan mulai muncul. Satu cita-cita saya, ingin belajar menjadi wartawan sejak kecil. Di bangku Sekolah Menengah Pertama, sebetulnya ada ekstrakulikuler Majalah Dinding (Mading) yang sebetulnya bisa menjadi wadah belajar buat saya. Akan tetapi saya tidak memilihnya karena satu alasan tidak ada teman yang memilih ekstra itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke bangku SMA saya bercita-cita untuk ikut ekstrakulikuler Mading atau apa sajalah yang terkait dengan jurnalistik. Tetapi sepertinya dewi fortuna belum berpihak pada saya. Di SMA saya tidak ada pilihan ekstrakulikuler Mading atau sejenisnya. Di SMA saya memilih kerohanian Islam sebagai organisasi pilihan saya selain itu saya juga memilih Dewan Ambalan (DA) Pramuka. Dari kedua organisasi itulah Rohis dan DA saya belajar banyak hal tentang organisasi, tentang persekawanan, tentang kehidupan, dan juga cara yang tepat bagaimana mengolah emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita terpendam saya untuk menjadi seorang wartawan belum pudar. Cita-cita pulalah yang membuat saya memilih jurursan Ilmu Komunikasi. Namun apa daya, jurusan Ilmu Komunikasi, mempunyai grade yang cukup tinggi dan peminatnya cukup banyak. Bagi saya yang memiliki nilai pas-pasan tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk memilih jurusan tersebut. Kemudian seseorang menyarankan kepada saya untuk memilih Jurusan Sastra Indonesia, sebuah jurusan yang sama sekali tidak pernah terbayang dalam pikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru dari sesuatu yang tidak terbayangkan itulah saya mendapat apa yang selama ini saya idamkan. Di kampus saya berkenalan dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tanpa pikir panjang lagi ketika lembaga itu membuka pendaftaran saya langsung mengambil keputusan untuk mendaftarkan diri menjadi anggota. Di LPM EKSPRESI, saya belajar banyak hal. Utamanya tentang jurnalistik, sebuah dunia yang selama ini saya idam-idamkan.Di LPM pula saya belajar mengelola sebuah media mulai dari bulletin sampai pada akhirnya dipercaya untuk memegang tampuk tertinggi di redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lembaga inilah lagi-lagi kestabilan emosi saya ditantang. Saya dihadapkan dengan orang-orang yang bandel, tidak tepat dead line, atau orang-orang yang mangkir dari tugasnya. Menghadapai karakter orang yang beragam itulah yang membuat saya banyak belajar tentang bagaimana cara menghadapi orang siapa dan bagaimana pun dia. Saya cukup menikmati perjalanan hidup saya di EKSPRESI, sebuah arena yang saya anggap sebagai rumah kedua sekaligus tempat menempa ilmu lain selain yang saya dapatkan di bangku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan saya yang cukup menyita waktu di LPM, membuat saya sedikit menunda waktu untuk menyelesaikan kuliah saya. Akan tetapi saya tidak pernah menyesal karena saya mundur satu tahun dari jadwal yang semestinya saya tidak melakukan kegiatan yang sia-sia. Saya belajar sebagai langkah awal untuk meraih cita-cita, menjadi seorang wartawan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;*Tulisan ini saya tulis ketika melamar di Jawa Pos. Saat saya mengundurkan diri awal Mei lalu, tulisan ini diberikan pada saya. Saya anggap ini sebagai sebuah prasasti. Yah..semoga saya selalu ingat kalau perjalanan saya masih panjang untuk menggapai cita-cita ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-5935301037097627982?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/5935301037097627982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=5935301037097627982' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5935301037097627982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/5935301037097627982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/05/kenapa-saya-ingin-jadi-wartawan.html' title='Kenapa Saya Ingin Jadi Wartawan*'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-4028166078658876507</id><published>2008-01-10T06:46:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T08:45:19.307-08:00</updated><title type='text'>Jogja...</title><content type='html'>Tak terasa&lt;br /&gt;satu purnama, Jogja telah aku tinggalkan&lt;br /&gt;Satu cita-citaku yang telah tercapai-meninggalkan Jogja-&lt;br /&gt;Obsesiku telah tercapai -jadi kuli tinta-&lt;br /&gt;tapi apa iya batiniahku sudah terpuaskan?&lt;br /&gt;hidup di kota baru, membangun jaringan baru,yang pasti membuka lembaran hidup baru. &lt;br /&gt;Jogja...&lt;br /&gt;Akhir tahun kemarin aku sempat menyambanginya&lt;br /&gt;sayang hanya 24 jam aku di sana.&lt;br /&gt;Jumat 28 Desember 2007&lt;br /&gt;Selepas menunaikan tugas aku memutuskan untuk pulang.&lt;br /&gt;Ada tiga orang yang malam itu bertolak menuju barat: Aku, Eka, dan komandan Tan.&lt;br /&gt;Rencana awal kami pulang jam 10 malam, karena jalur Ngawi putus. Tapi rencana tinggal rencana. Setengah sebelas malam kami baru meninggalkan Graha Pena. &lt;br /&gt;Aku dibonceng Agung, Komandan dengan Bakti, sementara Eka diantar Nungki. &lt;br /&gt;Bus Jogja-Solo lumpuh...&lt;br /&gt;Ngawi putus. Akhirnya kami putuskan untuk naik bis jurusan Solo. Lumayan penuh juga.&lt;br /&gt;Kami pun terlelap. Pukul tiga aku terjaga dari tidur. BAru sampai Madiun gumamku.  Tak lama dari aku terjaga bus memasuki terminal maospati. Bus tak sampai solo. Ia cuma bisa berhenti di MAdiun.&lt;br /&gt;Padahal waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Satu angkutan kecil disediakan untuk kami. Tapi satu orang dikenai bayar 40ribu itupun hanya sampai Solo. Demi cita-cita pulang kampung, aku turuti. Kami bertiga naik mobil kecil itu. Belum genap sepuluh menit mobil berjalan kami kembali terlelap. &lt;br /&gt;Aku terjaga jam setengah enam pagi. Di luar hujan gerimis rintik Kami melintasi kot Srage, itu artinya Solo tak lama lagi. &lt;br /&gt;tiba di terminal solo. Satu tempat yang langsung ku tuju. Apa lagi kalu bukan kamar mandi. Kami bertiga berpisah di solo. Aku dan Eka ke Yogya, smenetara Komandan ke Sukoharjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, aku datang&lt;br /&gt;Hujan deras menyambut kepulanganku yang pertama. &lt;br /&gt;Pagi aku bergegas menuju kantor polis untuk urus SIM&lt;br /&gt;Sore pergi ke pameran buku &lt;br /&gt;malem makan sama anak-anak&lt;br /&gt;pagi kembali ke Jogja..&lt;br /&gt;wuih..&lt;br /&gt;hari2 yang melelahkan...&lt;br /&gt;dan saat ini aku kembali merindukan Jogja..&lt;br /&gt;I really miss Jogja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-4028166078658876507?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/4028166078658876507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=4028166078658876507' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4028166078658876507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/4028166078658876507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2008/01/jogja.html' title='Jogja...'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-3440220817908393235</id><published>2007-07-11T03:28:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T03:30:30.364-07:00</updated><title type='text'>-Huruf Terakhir-</title><content type='html'>Huruf Terakhir*&lt;br /&gt;Fadila F. Armadita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa detik Sosok itu, Ry,  pergi bahkan punggungnyapun masih bisa aku lihat, benda kecil bernama HP milikku bergetar. Segera aku meraihnya, secarik pesan dari Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam penulis apa kabar?”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;22:45:23&lt;br /&gt;20-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum melihat pesan dari Osh. Ia teman seperjuanganku. Aku masih ragu membalas pesan darinya. Ku timang benda kecil itu sekali lagi pesan dari Osh kubaca, kemudian mengulanginya sekali lagi. Singkat memang pesannya tapi Aku merasakan banyak sekali makna tersimpan di sana, entah apa itu! Sadar atau tidak aku memencet tombol replay dengan lincah jemari ku menulis balasan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam juga demonstran! Kabar baik. Kemana aja gak pernah nongol, sibuk ngurus rakyat terus ya?! He……8x”&lt;br /&gt;“Message sent” demikian tulisan yang kemudian muncul di layar  Hpku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku melayang, akhirnya menangkap sosok Ry, Adam yang belum lama aku kenal. Ry, memang berbeda, aku mengakuinya. Mungkin diantara sekian banyak teman laki-lakiku, Ry agak sedikit lain. Baik dan unik, demikian komentar singkatku pada Ry. Sering dia membawakan cerita-cerita baru tentang dirinya, cukup menarik kisah hidupnya, berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain “Mencari identitas diri,”Ry coba berkilah ketika aku bertanya mengapa Ia kerap berpindah komunitas.&lt;br /&gt;Lamunanku akan Ry tersentak, ketika HPku kembali bergetar.  Lagi-lagi Osh, siapa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar penulis bisa aja! Kabar baik non, kangen nich sama bualanmu.Kapan majalah terbit? Aku tunggu launchingnya!”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;22:50:23&lt;br /&gt;20-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum, Osh, dia tak pernah berubah. Aku  dan Osh kerap bercerita tentang apa saja yang menarik buat kami, maka Ia kerap menjuluki ‘pembual’. Bualan kami berkisah tentang apa saja, mulai dunia yang kami geluti bersama sampai bicara tentang hati kami masing-masing. Terlebih ketika Dia mendekati seorang Hawa, dia banyak berkisah padaku tentang hatinya saat itu.  Ah, Osh, teman baikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak membalas pesannya lagi capek. Lagi  pula mata ini tak lagi bisa diajak kompromi. Akhirnya aku turut larut dalam kelamnya malam.   Tiba-tiba aku terjaga. Bukan mimpi buruk yang menyebabkannya. Tapi Ry, yang tiba-tiba saja muncul dalam pikiranku, datang begitu saja tanpa diduga. Baru  sekali ini aku memimpikannya, “Gusti mengapa ia masuk dalam bunga tidurku?”bisikku lirih dalam hati. Dalam mimpi Ry tak berkata sepatahpun, Ia hanya tersenyum padaku matanya yang tajam menatapku begitu dalam, seolah ingin menelusuri relung jiwaku kemudian memecahkan misteri di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu hanya kembang tidur saja!”kalimat itu terlintas begitu saja dalam pikiranku. Kemudian aku mencoba untuk kembali ke peraduan, namun sulit sekali aku memejamkan mata-tanpa aku tahu sebabnya-. Akhirnya aku beranjak dari peraduanku, kunyalakan komputer, juga sebatang rokok putih. Aku coba untuk berkata-kata. Aneh! Tak biasanya kata-kata itu tak muncul! Kata-kata yang selalu mendatangkan hoki bagiku, makanya Aku sangat mencintai kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HPku bergetar, bukan ada pesan masuk kali ini, tapi ada yang memanggil.   Ry, demikian tulisan yang muncul di layar HP. Aku agak terkejut “Tumben, nggak biasanya,”aku berkata lirih dalam batin. Agak lama tiba-tiba saja benda kecil itu berhenti berbunyi, “Cuma miscall,”gumamku. Baru aku letakkan, sekali lagi benda itu berbunyi, lagi-lagi Ry,&lt;br /&gt;Dan lagi-lagi HP itu berhenti berdering ketika aku akan beranjak mengangkat. “Dasar iseng!”aku mengumpat lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba tumpahkan konsentrasiku ke layar berukuran 14 inch. Sembari mataku menatapnya lekat, jemariku lincah menari di atas keyboard, dan otakku bekerja mencari kemudian menyusun diksi.&lt;br /&gt;Sunyi….&lt;br /&gt;Sunyi masih saja jadi milikku&lt;br /&gt;Ingin ku berbagi sunyi&lt;br /&gt;Ingin aku melepas sunyi&lt;br /&gt;Dengan siapa kapan saja&lt;br /&gt;Sunyi,&lt;br /&gt;Aku ingin seorang datang&lt;br /&gt;untuk memecah sunyi&lt;br /&gt;Sampai hancur, lebur&lt;br /&gt;Jadi serpihan kesunyian&lt;br /&gt;Hingga aku tak bisa menyusunnya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertas puttih, 200105&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Hpku lagi-lagi bergetar, ada pesan masuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neng, Tolong edit cerpenku donk, kamukan anak sastra”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;03:10:23&lt;br /&gt;21-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, menghina! Aku masih jadi cerpenis kamar, belum bisa menandingi Seno! Besok kalau aku sudah jadi sastrawan sekaliber Seno aku mau edit cerpen kamu”Aku menulis sekalimat balasan untuk Osh. Send aku kirim pesan untuknya.&lt;br /&gt;Kemudian mataku kembali terpaku pada layar 14 inch itu. Menanti balasan dari Osh, mungkin. Dugaanku tidak meleset, kembali pesan Osh masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok malah kamu yang jadi nggak pe-de! Bukannya kemarin  kamu yang ajari aku pe-de, itu yang aku kagumi dari kamu, Dhy, selalu optimis ”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;03:23:23&lt;br /&gt;21-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum membaca balasan dari Osh. Dengan lincah kembali jemari ini memencet tombol HP, membalas pesan Osh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke dech Kakak!  Main saja ke kost aku tunggu kamu! Btw, thanks pujiannya! Btw lagi, mau alih  profesi ya? Udah bosen di jalan, kok putar haluan jadi cerpenis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Message sent!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama masuk sebuah pesan, lagi-lagi Osh, aku mengira-ira. Tepat, pesan Osh memang masuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, tunggu aku di kostmu! Sesekali nggak apakan tulis cerpen, aku ingin jadi Seno! ”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;03:27:23&lt;br /&gt;21-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Osh! Sosok itu, masih seperti yang dulu, selalu ingin menyamai apa yang aku suka. Biar saja, mungkin Osh sedang ingin mencoba jadi sastrawan. Mungkin akan setara dengan Seno Gumira Ajidarma, cerpenis yang aku kagumi. Dan Osh tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi mulai menjelang, matahari kemerahan di langit sana. Ada sepi yang terbit di hati. Aku belum memejamkan mata lagi, entah beberapa putung rokok putih ku hisap sudah, setidaknya itu bisa mengeluarkan apa yang ada dalam hati ini. Tapi, aku masih saja kesepian, sunyi itu belum pecah, seperti pada sajakku. Pelan ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Meski setengah terkejut, aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Ry, sosok itu, manusia yang terakhir kali kulihat sebelum aku menutup pintu kamar kostku semalam, dan ketika aku pagi hari aku membukanya Ry, sosok itu sudah ada di depan mata. Bibirnya menyungging seulas senyum, barangkali itu adalah senyum  termanis yang dimilikinya pagi ini. Dan aku pun membalas seulas senyum itu dengan senyum termanis yang kumiliki pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi penulis, aku bawakan sarapan untukmu,”Ia menyapaku riang, kakinya melangkah masuk ke kamar, tanpa kupersilakan. Biar saja. “Dari mana kamu, Ry?”aku mencoba berbasa-basi, tanganku memberesi kertas-kertas yang berserakan, membuang putung rokok lengkap beserta abunya juga kusingkirkan obat penenang yang belum sempat kutenggak semalam. “Dari tukang bubur ayam ujung jalan sana,”Ia menjawab tenang. “Thanks, Ry, kamu sudah repot-repot membawakanku sarapan.” Ry hanya tersenyum, inilah senyum kedua Ry pagi ini. Kata beberapa kawan dekatku, Ry adalah sosok yang misterius. Sulit ditebak jalan pikirannya. Akupun sedang mencoba meraba ujaran mereka. Pelan kurasa ada yang mengusikku. Tatapan mata Ry, begitu tajam mata itu menatap. Sama seperti dalam mimpiku semalam, seolah ia ingin menelusuri sisi jiwaku barangkali juga ingin memecahkan misteri yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan aku menyendok bubur ayam itu ke dalam mulutku. Jujur aku lapar sebab sejak semalam perutku belum kemasukan apa-apa. Hanya air putih dan segelas kopi yang mengisi perutku. “Dhy…”Ry menyapaku pelan. Aku mendongakkan wajah kearah Ry, lagi-lagi aku harus beradu pandang dengannya. Jujur aku enggan, sudah kukatakan aku tak kuasa membalas tatapannya. Ada sesuatu yang berbeda tatkala sepasang indera penglihatan itu menatap. Aku segera menyahut sapaan Ry di detik kemudian, aku takut jika Ry tahu kebimbanganku.&lt;br /&gt; “Ada apa Ry?” Ia hanya diam, tapi matanya tak pernah berhenti menatapku, dengan tatapan yang itu-itu saja. Dan masih saja sama seperti kemarin.  “Ry, kok malah bengong?”aku mencoba menyadarkan Ry dari lamunan aku tahu dia melamun, entah apa yang ia pikirkan aku malas untuk menerkanya. “Gak ada apa-apa Dhy, aku Cuma ingin menyapamu saja,”jawaban Ry terkesan dibuat-buat, itu yang aku tangkap. “Dhy, aku pulang,”Ry tiba-tiba saja berucap demikian. Aku kaget, dan tanpa menunggu jawabanku dia beranjak meninggalkanku. Heran, apa yang ada dalam pikiran, Ry, Sosok itu.&lt;br /&gt;Hpku bergetar;        &lt;br /&gt;“Maaf Dhy, aku hanya mencoba untuk jujur, AKU MENCINTAIMU!! ”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Ry&lt;br /&gt;08156798421&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;07:24:23&lt;br /&gt;22-01-05&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut, dan mencoba membaca sekali lagi pesan yang masuk. “Gusti….. apa ini?”aku mendesis dalam batin. Ry, sosok itu, tak pernah aku menduga sebelumnya.&lt;br /&gt;“Bodoh kau! Itu makna dari tatapan matanya selama ini!”sebuah suara tiba-tiba saja berkoar tapat ditelingaku.&lt;br /&gt;“Bukan! Bukan Ry yang aku cari, memang selama ini aku mencari tapi bukan Ry!”dalam batin aku membalas ucapan, entah, suara itu.  &lt;br /&gt;“Ha….ha……ha…….dasar manusia bodoh! Tak bisakah kau baca gerak-geriknya selama ini? Kau mahir dalam berimajinasi dengan hati tokoh khayalanmu, tapi kau tak mampu menerjemahkan hatimu sendiri!”lagi-lagi suara itu yang kudengar, entah milik siapa!&lt;br /&gt;Pesan Ry, tak kubalas, ku biarkan Ry, memanggil-manggil lewat panggilan, aku tak peduli. Di detik lain aku putuskan untuk menjawab pesan Ry, agak bimbang aku memencet tombol Hpku, tapi aku harus bisa, kalau dia jujur akupun demikian.&lt;br /&gt;“Maaf Ry……….”hanya itu yang bisa aku tulis. Sebab aku tak kuasa menjawab pesannya itu.&lt;br /&gt;Dan setelah itu tak pernah lagi kudengar kabar dari Ry, pun hari-hari berikutnya kabar itu tak pernah datang.&lt;br /&gt;“Kamu memang layak untuk dicinta, Dhy,”ujar Ray, kawan baikku-sahabat Osh juga, ketika aku menceritakan ini padanya. Aku tersentak, kemudian Ia menyambung kembali kalimatnya,’’Tak salah kiranya jika Ry memilih, demikian pula dengan…..”belum sempat Ray meneruskan kalimatnya, aku keburu memotong, “dengan siapa Ray?” Ia tergagap, “Dengan Osh, dia menaruh hati sejak awal perkenalan kalian, tiga tahun yang lalu,”pelan tapi tegas Ray ucapkan kata-kata itu. “Duh gusti….. apa lagi ini?”batinku berbisik. Seolah mendengar bisikanku Ray menimpal,”Dia tak pernah katakan ini pada siapapun Dhy, hanya padaku dia katakan ini dan kuharap jangan pernah berubah sikap padanya,”Aku mengangguk. Aku mencoba untuk pastikan hatiku sendiri. “Ray, aku bimbang” Ray tersenyum, digenggamnya tanganku dan ia bertutur,”Apapun keputusanmu  aku yakin kamu pasti bisa memilih yang terbaik,”aku tersenyum, Ah Ray, kawan baikku.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Dua hari aku tak pergi kemanapun, hanya ada dalam kamar entah berapa bungkus rokok kuhabiskan sudah, berapa butir pil penenang kutenggak habis. Pesan dri Osh-pun hanya sempat kubaca tanpa pernah kubalas.&lt;br /&gt; “Dhy, sudah terima cerpenku? Baca ya, sudah pantas belum aku jadi Seno?”&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Osh&lt;br /&gt;081578752208&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;06:05:29&lt;br /&gt;25-01-05&lt;br /&gt;Yach, cerpen Osh memang sudah kuterima, via pos,  kilat khusus pula! Tapi aku belum menyentuhnya. Bukan aku tak mau menuruti pintanya, aku hanya belum sanggup saja. Aku perlu menata hati.&lt;br /&gt;Hari ketiga aku bercokol dalam kamar, aku sudah ada keputusan, seperti kata Ray apapun keputusanku itu adalah yang terbaik setidaknya buat diriku sendiri.&lt;br /&gt;Matahari  belum terlihat di ufuk timur, aku sudah berkemas. Sebelum meninggalkan pondokanku aku mengamatinya seksama. Terlalu  banyak yang aku kenang di sini, obrolan dengan Ry sampai larut, atau diskusi bareng Ray dan Osh sampai pagi.&lt;br /&gt;Aku pergi, tak ada yang mengantar tak ada tangisan perpisahan. Aku biarkan kakiku melangkah ditelan dingin pagi, hanya tetes embun yang mengantarkan langkahku pagi itu.&lt;br /&gt;Stasiun Lempuyangan, sudah lumayan banyak yang hadir di sana hanya. Bakul nasi bungkus adalah orang yang menyapaku pertama kali ketika kakiku beranjak memasuki stasiun, “Nasi bungkus Mbak, masih hangat dua ribu,”dia menawarkan dagangannya padaku. Aku hanya tersenyum kemudian meneruskan langkah menuju loket. &lt;br /&gt;Sembari menunggu kereta datang satu jam lagi, perutku lapar, yah memang sudah tiga hari ini aku makan tak teratur. Mataku mencari bakul nasi bungkus tadi. Ah itu dia di depan wartel, aku hampiri dia dari dekat jelas aku lihat garis-garis kerentaan pada wajahnya, tapi masih tersirat garis kecantikan, “Pasti waktu muda dia cantik.”Aku menduga dalam hati.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Kereta berangkat ke arah timur kota Yogya dan aku sudah ada di dalamnya. Sendiri, aku meraih ponselku, lincah jemari ini menari di atas tombol menulis secarik pesan,&lt;br /&gt;“Ray aku pergi sampaikan salamku pada Ry dan Osh. Maaf jika aku tak bisa penuhi pintamu,”&lt;br /&gt;Kukirim pesan itu pada Ray, hanya dia orang yang aku percaya saat ini. Setelah itu simcard yang ada dalam ponsel aku lepas kemudian ku lempar dia keluar, terbng tertiup angin ia jadinya.&lt;br /&gt;Aku memang ingin memecah sunyi, dengan siapun, asal dia bisa membantuku untuk menemukan huruf terakhir kisah hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogya,2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-3440220817908393235?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/3440220817908393235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=3440220817908393235' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/3440220817908393235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/3440220817908393235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2007/07/huruf-terakhir.html' title='-Huruf Terakhir-'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-6303813578732698514</id><published>2007-07-11T03:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T03:27:44.746-07:00</updated><title type='text'>Angkot Terakhir</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku baru saja pulang dari kantor. Pekerjaan menumpuk membuatku bosan. Di luar sudah gelap, aku melirik jam tangan di pergelangan kiriku. “Pantas saja sudah gelap,” aku bergumam sendiri. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan kecil yang menghubungkan kantor dengan jalan raya. Sepi, hanya  ada beberapa sepeda onthel hilir mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih bangku paling ujung menanti angkot terakhir yang lewat. Aku menatap jalan raya kotaku semakin padat saja sepertinya. Tanganku, merogoh ponsel yang ku simpan di dalam tas. Ada pesan masuk rupanya. Aku terkejut, itu pesan dari Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam, Dhy, apa kabar? Malam ini entah mengapa aku merindukanmu. Apa lagi di malam purnama seperti ini. Kalau boleh minggu depan aku akan ke kotamu, bolehkan?&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Bayu&lt;br /&gt;085647182459&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;19:20&lt;br /&gt;04 May 07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum, aku segera membalas pesan pendek dari Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja, aku tdk punya alas an untuk melarangmu dtg kemari. Kapan pstinya rencanamu kemari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Message Sent! Begitu tulisan yang muncul di layar ponselku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu, lelaki yang aku kenal satu tahun yang lalu. Tepat ketika aku bertandang ke kotanya di pesisir utara Jawa. Ada sesuatu yang lain ketika pertama aku mengenalnya, sosok Bayu yang demikian teduh, tenang, ada aura kewibawaan di wajah tirusnya. Aku ingat benar ketika menatap wajahnya untuk kali pertama, ia hanya mengenakan kaos putih yang sudah lusuh, dengan celana kain berwarna kelabu. Rambutnya tak tertata rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyapaku dan duduk tepat di samping kananku. Badan kurusnya ia sandarkan pada tiang. Perasaanku campur aduk ketika itu, Bayu duduk di sampingku. Aku sendiri tak kunjung mengerti mengapa sosok Bayu yang baru beberapa detik ku kenal bias merusak tatanan hatiku . Kamipun berjabatan erat ketika aku pamit pulang ke kotaku. Aku masih mengingat jelas ucapan Bayu ketika kami berpisah malam itu. “keep contact, Dhy..” aku mengangguk. “Bayu, siapa tak ingin terus berkomunikasi denganmu.” Aku hanya membatin ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang waktu, aku disibukkan dengan rutinitas harian. Sosok Bayu nyaris terlupa dalam hari-hariku. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiranku tentang Bayu, semua berlalu begitu saja.  Sampai bulan tiga lalu, ketika ada acara serupa digelar di kotanya. Aku tak tahu angin mana yang membawa Bayu menghubungiku, dia ingin aku datang di acara itu. Bayu masih mengingatku. Seketika bayangan Bayu kembali muncul. Pun dengan getaran yang pernah aku rasakan. Ternyata semua itu masih ada dan tanpa aku sadari aku menyimpannya di alam bawah sadarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali bertemu dengan Bayu. Malam itu dia sendiri yang menjemputku di stasiun kotanya.  Ia memanggil namaku begitu melihat aku turun dari kereta. Aku tersenyum dan berjalan ke arahnya, kami berjabat tangan. Ia menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Aku menerima dan menengaknya meski tidak haus. Sedikit berbasa-basi ia menyakan kabarku. Bayu tidak berubah di mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu pula yang menemaniku di Halte ketika aku hendak pulang ke kotaku. Ia melepasku dan sekali lagi ia memintaku untuk terus berkomunukasi dengannya. Aku mengiyakan dan memberikan senyum termanis yang aku punya untuk Bayu. Sebelum  kakiku melangkah masuk ke dalam Bis, Bayu berkata,” Dhy coba kamu lihat di atas sana, purnamanya cantik,” telunjuknya mengarah ke langit. Ekor mataku mengikuti arah ia menunjuk. Ya memang purnama sedang sempurna. Langit kotanya malam itu bersih. Purnama utuh dan bintang-bintang menyebar rata di atas sana. Aku mengiyakan ucapan Bayu kemudian melambaikan tangan, aku berpamitan. Setelah itu malam-malamku hanya milik aku dan Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayu memang sering membuat kejutan untukku. Tanpa ku minta ia sering membangunkan aku di pagi hari. Ia pula seirng menyemangatiku untuk merampungkan pekerjaan. Seperti malam ini dia membuatku terkejut dengan pesan pendeknya itu. Ponselku bergetar, pesan dari Bayu masuk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bs berjanji gadis. Tapi yang pasti aku akan datang ke kotamu untuk mengunjungimu.&lt;br /&gt;Sender:&lt;br /&gt;Bayu&lt;br /&gt;085647182459&lt;br /&gt;Sent:&lt;br /&gt;19:24&lt;br /&gt;04 May 07&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum membaca sekilas jawaban pesan dari Bayu. Aku beranjak pergi dari Halte, begitu melihat angkot terakhir datang. Dalam angkot aku duduk sendiri  di sebelah kanan tepat di sebelah jendela. Agar aku bisa menikmati purnama, tapi malam ini ia sendiri langit sedang tak berbintang. Lirih hatiku berbisik, “Bayu..malam ini purnama menemani perjalananku pulang. Ia mengikuti roda ini berputar. Terimakasih Bayu, untuk setiap purnama yang telah dan kelak akan datang kembali.” Aku tak membalas pesan Bayu. Tak mengapa biar saja purnama yang membersamaiku malam ini dalam angkot terakhir. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-6303813578732698514?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/6303813578732698514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=6303813578732698514' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/6303813578732698514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/6303813578732698514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2007/07/angkot-terakhir.html' title='Angkot Terakhir'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-1900554820135571276</id><published>2007-07-08T23:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T23:27:49.027-07:00</updated><title type='text'>-28290107-</title><content type='html'>Perjalanan akhirnya berakhir sudah. Bukan akhir semuanya, tapi setidaknya saatnya membuka halaman baru dan kemudian menulisinya kembali tentu saja dengan cerita-cerita yang baru. Penghujung Januari 2007, ketika palu diketok. Ada rasa sedih, lega, belum rela, senang, kehilangan, campur aduk menjadi satu. Aku tak bisa menceritakan perasaanku ketika itu, aku hanya mampu sesengrukan menangis. Akhirnya semua bisa kulewati. Meski jujur belum sepenuhnya aku bisa percaya kalau aku mampu melewatinya. Satu per satu kutatap wajah-wajah yang barangkali dulu pernah memandangku dengan bengis. Aku hanya berharap tak ada lagi amarah tersimpan dalam dada mereka. Aku melihat air mata bergulir di sela mata yang sembab karena tak tidur semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengingat memory, detik-detik ketika aku menanggalkan semua. Tepat ketika palu di ketok, kami pergi meninggalkan ruangan. Di luar langit masih hitam, masih ada purnama bulat utuh di atas sana. Aku tidur terlentang di badan jalan, seolah ingin menghempaskan semua beban yang ada di pundakku. Aku menatap langit entah untuk berapa lama. Sampai langit berubah warna, pelan-pelan ia semakin terang. Matahari pagi mulai muncul diufuk timur, di sela rimbunnya pepohonan. Di belakangnya tampak gunung Merapi berdiri kokoh, dari wisma tampak meski agak samar sebuah jalan, barangkali jalan lahar. Konon kawan-kawan berujar kalau semalam ada pijaran keluar dari puncak merapi. Sayang aku tidak bisa menyaksikannya. Belum matahari sempurna, aku kembali masuk ke ruangan untuk mendengarkan hasil apa yang akan ku terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di dekat pintu di sampingku kepala sekolah sudah terkulai lemas di atas meja. Barangkali ia tak kuasa menahan kantuk setelah semalaman begadang. Begitu dibacakan hasil rapat, sontak aku keluar mengikuti Hajar yang sudah lebih dulu keluar. Sampai-sampai lupa pendemisioneran pengurus.. di luar langit sudang terang, meski dingin masih terasa. Air mata mulai menetes. Aku kembali masuk ke ruangan. Sasha menyambutku, kami berpelukan beberapa saat. Satu per satu aku menyalami mereka yang pernah memberiku semangat. Dani, kami berpelukan beberapa saat, jika masih ada dendam yang belum termaafkan, barangkali itu saatnya semua lebur. Iswara, kami berjabatan erat, terimakasih Iswara atas kerjasamanya selama empat tahun ini. Senang bisa berpatner denganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Hajar, dan Vetty pergi ke belakang wisma kami bercengkrama sejenak. Melepas semua beban berbagi kelegaan juga barangkali. Setahun telah berlalu. Begitu cepat barangkali. Sepertinya mataku bertambah sembab, setelah semalaman tak tidur, ditambah lagi aku menagis sesengrukan. Aku mengirim pesan pendek kepad Mas takim. Aku kangen dengan kakakku satu itu, dia banyak memberikan petuah bijak juga nasihat selama aku ada di rumah cinta. Senang rasanya sebentar lagi bisa berbagi perasaanku ketika itu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat yang peling menyakitkan adalah ketika aku harus menerima kanyataan bahwa aku telah ‘usai’ menunaikan tugas belajar di rumah cinta. Itu artinya aku juga harus berpisah dengan aktivitasku, membuka jalan baru, menjalani hari-hari baru, dan tentunya mengatur jadwal aktivitas baruku.&lt;br /&gt;Hesti baru sesengukan ketika kami semua berjabat tangan memberi selamat kepada mereka yang baru saja naik. Aku tak tahu, barangkali ia menahan. Aku dan Hesti berpelukan erat. Mau tak mau aku kembali menetes. Entah dada ini tiba-tiba saja sesak kembali. Seolah semua memory kembali terbuka. Eka mengajak untuk naik bus kampus saja, barangkali untuk terakhir kalinya. Entah barangkali suatu saat kelak ada moment yang mengantarkan kami lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari setelah MUSASI, aku mengumpulkan kekuatan untuk dating lagi ke EKSPRESI. Masih sepi, barang-barang masih berserakan. Akun membereskan barang-barangku yang masih tertinggal di EKSRPESI. Membongkar loker redaksi memilah barang pribadiku yang kutinggal di sana dan mengembalikan barang-barang EKSPRESI yang ada padaku. Uwik hanya bisa menatapku, entah apa yang ia rasakan. Dia hanya bercerita kalau sebelum aku Hesti datang dia juga mebereskan semua barangnya. Aku melongok lemari kecil di bawah meja, tempat biasa Hesti menyimpan barangnya, sudah kosong. Aku tersedak. Hanya lebih kurang tiga puluh menit aku di sana kemudian aku bergegas pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku menjalani hari-hari tanpa EKSPRESI. Hanya terdengar kabar tentang EKSPRESI. Sesekali aku berbincang tentang masa lalu dengan siapa saja. Mungkin benar kata Warso, kalau masa lalu itu membebaskan. Tak ada dendam tentang cerita pahit dan menyakitkan di masa lalu. Kami hanya tertawa dan menganggap itu adalah hal konyol yang pernah terjadi. Semua telah tersimpan dalam satu kitab yang barangkali akan menjadi cerita. Semua telah berlalu dan aku telah melaluinya. Entah apa yang terjadi esok. Sepertinya aku akan kehilangan sosok-sosok ceria yang pernah mewarnai hidupku, saatnya kami menentukan legenda pribadi kami. Terimakasih semua! Barangkali aku adalah orang yang selalu saja terjebak pada kejayaan masa lalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-1900554820135571276?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/1900554820135571276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=1900554820135571276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1900554820135571276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/1900554820135571276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2007/07/28290107.html' title='-28290107-'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-8636678007427996067</id><published>2007-07-08T23:24:00.000-07:00</published><updated>2007-07-08T23:25:40.844-07:00</updated><title type='text'>“Mulanya Tersia-sia”</title><content type='html'>Novel ini aku temukan secara tak sengaja. Aku lupa kapan tepatnya aku menemukan novel ini. Seingatku novel ini berada ditumpukan buku-buku lawas milik ibu. Dulu pernah aku membacanya sekilas, ah malas membacanya karena masih menggunakan ejaan lama. Novel ini sempat berjajar manis di rak buku di kamar lumayan lama. Aku tak melebelinya, karena bagiku tak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika aku disodori daftar seratus buku sastra Indonesia terpenting, novel ini masuk satu di antaranya. Aku sedikit tercengang, aneh apa pentingnya novel itu. Justru rasa penasaran itulah yang membuat aku untuk memilihnya untuk aku cermati. Jujur saja pertama membaca aku membaca ada rasa bosan dan malas membacanya. Pertama karena tulisannya masih menggunakan ejaan lama. Aku melihat identitas buku penerbitnya Djambatan dan diterbitkan pada tahun 1963 tidak jelas buku yang aku baca ini tjetakan ke berapa. Kedua sungguh membosankan menurutku ketika membaca bagian awal cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini milik M.S. Abbas, begitu tulisan yang tertera di halaman depan buku ini. Entah siapa Abbas, barangkali kawan lama ibu. Seeprtinya pemilik awal buku ini cukup rajin, ia menulisi tetenger pembelian buku ini: 19/5/1976, itu artinya buku ini sudah berusia 31 tahun. Di halaman kedua, tertempel sebuah nota pembelian buku ini. Harganya 90 rupiah setelah mendapat potongan 10 rupiah. Dan di beli di toko buku Gunung Agung, yang sekarang sudah almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merasa asyik membaca buku ini ketika memasuki bagian tengah cerita. Ketika Herman dan Toto dijebloskan ke dalam penjara. Ada banyak hal menarik, ketika di dalam penjara. Bagaimana pergulatan batin para tawanan, yang sebetulnya tidak terima karena mungkin dirinya tidak berrsalah namun ada juga tawanan yang justru menikmatinya. Lebih enak hidup di dalam tahanan karena semua mereka dapatkan secara gratis, tanpa harus memikirkan biaya makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari enjoy atau tidaknya para tawanan itu, novel Pagar Kawat berduri memunyai daya tawar sendiri. Kejiwaan orang-orang yang ada di dalamnyalah yang membuatnya unggul. Manusia dalam beragam karakter dan latar belakang ‘dipaksa’ hidup bersama dalam satu kamar karena satu nasib: tertawan oleh penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis cukup jeli membuat beberapa suspense dalam buku ini. Semisal Koenen, Sersan Mayor pimpinan Kamp Salatiga itu. Seorang Belanda yang identik dengan kebengisannya, Koenen justru berkebalikan ia tidak bengis, ia memihak tawanan yang kerap disakiti oleh para pejaga tahanan. Meski demikian Koenen tetap tidak sepakat dengan sikap melawan bangsa Indonesia terhadap Belanda. Koenen pun menjalin persahabatan dengan Parman, yang sejatinya adalah seorang prajurit Indonesia. Persahabatan terjalin cukup erat meski keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda dan memunyai alur pemikiran yang bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koenen yang berusaha untuk berbuat baik dan ramah terhadap tawanan harus menelan pil pahit. Ia kecewa lantaran ada tawanan yang melarikan diri. Dan kekecewaannya semakin menjadi ketika tahu bahwa Parmanlah dalang dari semua ini. Ia tak bisa berbuat banyak, ia tak bisa meloloeskan Parman dari hukuman tembak karena itu sudah menjadi peraturan. Ia pun tak bisa mengelak dari rasa kecewa pada dirinya sendiri juga pada Parman barangkali karena merasa telah dikhianati. Akhirnya Koenen memilih meregang nyawa dengan pistolnya sendiri, di ruang kerjanya, dan kepalanya terkulai lemas di atas meja kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada peristiwa yang cukup menegangkan ketika Toto dan Herman melarikan diri dari Kamp dibantu oleh Parman. Dan lagi-lagi ada kejutan yang diberikan kepada pembaca. Akhirnya justru Toto tertembak mati sedang Herman berhasil melarikan diri, sementara Parman otak dari kaburnya Herman dan Toto dihukum mati, sedang Koenen tidak bisa berbuat apa-apa ia pun mati di bawah pistolnya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-8636678007427996067?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/8636678007427996067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=8636678007427996067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8636678007427996067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/8636678007427996067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2007/07/mulanya-tersia-sia.html' title='“Mulanya Tersia-sia”'/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4819285746600884476.post-7968639919798815269</id><published>2007-04-27T00:52:00.000-07:00</published><updated>2007-04-27T00:53:41.295-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Surat yang kesekian untuk EKSPRESI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi Ulang Tahun kedelapan Belas yah…ehm…sepertinya sudah lama tidak ada semacam refleksi di EKSPRESI. Aku kurang ingat persis kapan ada refleksi di EKSPRESI. Yah..Refleksi selalu antar person, dalam kelopmpok kecil yang berujung pada gossip atau ngomongin orang-orang EKSPRESI, tanpa secara jantan menunjuk di depan muka. Seorang senior pernah berkata, malam refleksi adalah saat ketika kita bisa ‘misuh-misuh’ sesuka hati, mengatakan aku nggak suka, aku gak sreg sama kerja si A, kerja si B. Yah, berapa tahun malam refleksi selalu gagal karena PUnya sibuk pacaran hehehhe (ah…gak penting ngomongin pacarnya PU waktu itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingetku malam refleksi terakhir yang ku ikuti adalah saat ultah EKSPRESI di tahun 2004, yah bulan April tepatnya. Aku masih ingat ketika itu Obed, anak baru en belum dilantik. Yah namanya juga refleksi anggota, Obed waktu itu belum anggota jadi belum boleh ikut dia diusir begitu saja sama Mas Takim. Ya …dia misuh-misuh di luar, aku masih ingat teriakannya, begini kurang lebih, “gimana organisasi mau maju, kalau ikut aja nggak boleh!” redaksinya aku lupa tapi begitu kurang lebihnya (hihihi kasian dech Obed). Maaf  kalau ada refleksi setelah itu  dan  aku lupa. Kenangan paling indah di EKSPRESI sampai aku rampung di EXPEDISI,  setelah itu hanya indah saja tidak memakai paling.  J&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja yah…&lt;br /&gt;EKSPRESI….perkenalan awal dengannya ketika aku mahasiswa baru di UNY, masih kinyis-kinyis, imut, lucu, dan manis J. Tepatnya ketika display UKM di lapangan Pancasila (sekarang gedung FISE tempat aku biasa beser heheheh). Aku gak berkesan dengan display yang ditampilkan EKSPRESI saat itu,karena memang EKSPRESI gak ngeluarin display (lho..). Aku jatuh cinta dengan standnya. Stand di pojok, kumuh pula. Ditambah dengan debu-debu lapangan pancasila yang gak bertanggung jawab dan dengan biadabnya hinggap si stand-stand UKM.  Stand EKSRESI selain kumuh juga dipenuhi buku-buku, dan kotak ajaib (baca:TV) aku ga tau pasti itu TV yang warnanya ijo semua bukan yang jelas bukan TVnya Obed.en orang-orang yang ga kalah kumelnya sama stand, pakai baju item-item en ketauan kalau mereka jarang mandi hihihihihhihihi. Aku Tanya,&lt;br /&gt;Aku                             : ada formulirnya gak?&lt;br /&gt;Orang EKSPRESI     : itu ambil aja! (sambil nunjuk tumpukan kertas di atas buku&lt;br /&gt;                                     dagangan, kemudian matanya kembali ke TV)&lt;br /&gt;Aku                             : Makasih, mas…(terus pergi)&lt;br /&gt;Ah itu perkenalan awalku dengan EKSPRESI, setelah sebelumnya aku membaca EXPEDISI edisi khusus Ospek yang (maaf) masih ndeso dengan ukuran F4 buram pula. Di belakang EXPEDISI ada iklan menerima pendaftaran pendidikan wartawan kampus…(wah ngeri juga dengernya) wartawankan cita2ku sejak dulu, terus ada juga kalimatnya yang bikin bulu kuduk merinding begini :&lt;br /&gt;“Kalau hatimu bergetar melihat ketidak adilan, maka kita adalah kawan.” (den Bagus) walah ternyata oh ternyata den Bagus itu Mas Takim toh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qey…hari-hari aku lewati di EKSPRESI, mulai magang, pelatikan (ada story khusus nech  di sini…gimana tidak aku ketinggalan Bus coy..ama Tante Nessy, gara2 qt kelamaan di kost tante Nessy), Musasiku pertama di wisma Merbabu (yang konon berhantu), mengerjakan EXPEDISI jadi redpel pertama langsung klenger….gimana enggak redaktur sentranya kabur, Cuma ninggal TOR  doang (gak sopan…siapa sich orangnya jitakin rame2 yuk…J). Banyak hal tentunya aku rasakan dari EKSPRESI. Terutama nilai2 sosial yang diberikan oleh EKSPRESI. Yah dari EKSPRESIlah aku banyak belajar tentang kondisi sosial di sekitar, aku yang selama ini cuek sekarang mulai melihat kenyataan. Mulai belajar untuk lebih dekat dengan ‘wong cilik’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awal mula aku di EKSPRESI, namanya orang lapar, aku dan dua orang kawanku makan di warung depan EKSPRESI (baca:garden café), begitu kaki kami melangkah keluar garden café dan menuju EKSPRESI, seorang senior yang paling garang menghadang kami di depan jendela (waktu itu belum ada pintu) dia Cuma bilang singkat, “Anak ekspresi kok jajan di garden café…”aku bengong waktu itu, entah aku gak tau alasannya. Terus dengan wibawa seorang kakak senior itu bercerita padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah dahulu kala, di tanah tempat berdirinya garden café sekarang adalah warung soto, tempat anak-anak EKSPRESI biasa makan (ato ngutang yyyyyaaaa…) nah terus melihat laris, tetangga kita KOPMA menggusurnya dan mengklaim itu adalah tanah KOPMA dan menjadikan tanah itu sebuah café yang bisa dibilang cukup menarik hati. EKSPRESI kala itu memperjuangkan hak penjual Soto itu, gak bisa dong seenak udel sendiri main gusur toh itukan tanah tak bertuan. (btw untuk cerita pasnya silakan dech yang mengalami kejadian untuk  meluruskannya). Kalau gak salah EKSPRESI memberitakannya dan itulah yang membuat KOPMA kebakaran jenggot dibuatnya, sejak saat itulah EKSPRESI mengharamkan warganya untuk makan di garden café. Ternyata ada sesuatu yang terlewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita ketika saya berkunjung ke rumah salah seorang alumni, satu tahun yang lalu. Waktu itu saya memintanya untuk mengisi up grading keredaksian di raker 2006. Dia banyak bercerita tentang ESPRESI di masa kejayaannya. Alumni yang satu ini sedikit terlupa dalam sejarah EKSPRESI. Mulanya saya penasaran dengan alumni satu ini, karena selama ini saya mendengar namanya saja tanpa pernah tahu seperti apa orangnya, jangankan orangnya,  fotonya saja saya tidak tahu (kasiman…) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbincang lama dengannya, mengikuti alurnya bercerita, saya jadi mengidolakan alumni satu ini. Bukan pada kehidupan pribadinya, tetapi pada militansinya terhadap EKSPRESI, terhadap loyalitasnya kepada lembaga. Kepada Saya juga Hajar, dia bercerita. Saat itu dia menjabat sebagai bendahara lembaga. Ia harus memutar otak bagaimana caranya lembaga bisa bertahan hidup dengan dana yag minim dari rektorat. Ia putar akal, akhirnya dia berwirausaha. Setiap pagi berangkat dari kost membawa gorengan tempe, tahu, dkk untuk dititipkan ke warung soto depan EKSPRESI, begitu setiap hari. Yah..lumayan untungnya bisa untuk menghidupi lembaga ketika itu. Tak banyak orang tahu bahwa EKSPRESI juga pernah hidup dari sebuah penggorengan (makanya jangan remehkan gorengan…), barangkali juga hanya kepada saya dan Hajar sajalah alumni itu bercerita. Ketika warung itu digusur, hilang pulalah mata pencaharian EKSPRESI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garden café bukan lagi mitos bagi kawan2 EKSPRESI, kawan2 lembaga luarpun seringkali meledek kita (EKSPRESI) yang enggan diajak jajan di garden café. Sejujurnya beberapa kali saya pernah mencoba jajan di Garden Café, tapi anda tahu  rasanya?hwekk.. Saya serasa tak makan dan tak minum! sumpah guwa kagak boong. Yah…tapi bagi aku itu pilihan, toh orang2 yang dulu dengan lantang meneriakkan anti garden café sekarang menjadikannya tempat nongkrong alternatif. Bukan itu yang penting, anggap saja mereka nongkrong atas nama pribadi. It’s ok atas nama pribadi, but kalau sudah menyangkut lembaga? Itu lain soal…masa iya sich rapat redaksi di garden café kayak ga ada tempat lain aja pliss dech… meski hujan, sebenarnya itu bukan alasan. Belum lagi rapat2 yang lebih ‘tinggi’ kedudukannya setelah MUSASI. Masa sech keputusan lembaga yang bisa dibilang penting, diputuskan di atas tanah yang pernah ‘digugat’. Meski kita tidak mengalaminya tapi ini tradisi bung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Felix adalah contoh kasus yang lain lagi. EKSPRESI telah gagal memperjuangkan Felix, kita gak maksimal,  jujur saya juga merasa andil salah dalam hal ini. Kurang bisa menajamkan pisau analisa. Selain itu juga ah…sudahlah bikin menyesal dan menyesakkan dada saja. Saya tak bermaksud turut campur atawa apa, hanya saja ijinkan saya untuk mengingatkan. Sebentar lagi kita akan meninggalkan rektorat lama menuju gedung baru yang entah kapan bakal terwujud. Semoga Lek Ugeng menderita amnesia dan lupa kalau ia berencana membangun SC (ah gak mungkin..). Ngrasa berdosa gak sich…setiap hari kita makan nasi felix, ngeteh juga tehnya felix, tapi kita gak bisa perjuangkan pak Felix…oh..Pak Felix forgive me….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat akan sebuah obrolan absurd bin jayus di belakang EKSPRESI, tepat beberapa hari sebelum saya meletakkan jabatan. Ehmmm barangkali ada yang masih ingat, ketika itu kita berandai-andai kalau seandainya SC itu ada, itu hanya mampu bertahan beberapa saat saja. Ah..obrolan absurd kala itu tapi sayang juga lho kalau obrolan absurd bin jayus itu gak di follow up-i meski jayus tapi berbobot lho…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah inilah nilai yang aku rasa kurang di EKSPRESI tapi aku sendiri juga kurang tahu sech seberapa jauh pembacaan kawan2 EKSPRESI terhadap kasus SC yang sudah ada di depan mata. Jangan sampailah kita kecolongan untuk itu. Masih bisa di lawan kok..bener sumprit. Gak boong dech. Asal kawan2 mau mencari tahu, merapatkan barisan, dan yah melawan tentu saja. Apa gak nyesek tuch nantinya, tau2 kita udah pindah ke tempat yang sempit, pengap, dkk. Jangan sampai dech..aku nggak rela. Terus…apa lagi ya…. Ehm..pokoknya jagan sampai dech kita kayak kawan2 kita di UIN, mereka itu kasihan bgt dech..akses lambat karena terpojok…mencil. Yah…anggota juga jadi jarang nongol dech karena itu tadi persoalan jarak..ya ampyun….cape deh….di EKSPRESI sekarang ini, coba lihat aja , meski aku ga pernah ke EKSPRESI, tapi ya aku tetap memantau perkembangan kalian dari hari ke hari….hehehe day to day orang belum dipindahin ke SC aja pada jarang nongol gimana kalau jadi pindah….bisa2 itu EKSPRESI Cuma milik PU seorang ehhehehehehe&lt;br /&gt;O ya ada lagi…soal ini ehm….sebenernya aku bukan bermaksud mengurusi atau mencampuri urusan internal EKSPRESI (kepengurusan sekarang) tapi bolehkan aku sedikit yah…curhat bisa dibilang gitu. Gini lho boys and girls semua… acara EKSPRESI itukan acara kita semua, bukan acara divisi ataupun individu, jadi yyyaaa piye yo…mbok iya o saling mendukung, meski kita ngak sreg dengan acaranya ya kita harus njalanin, namanya juga keputusan. Kita gak boleh donk memaksakan ego atau keinginan kita. Semisal acara redaksi, ya apa yyyaaa…gagas tema misalnya (aku gak tau respon kawan2 di gagas tema gimana), yang aku dengar sih.ada segelintir kawan yang jarang nongol bisa dibilang nggak sama sekali (ini sich penyakit sejak dulu, sejak jaman aku masih jadi pemred oknumnya juga sama kok halah..penyakit nech namanya entah kali ini apa alasannya, aku enggan untuk menanyakannya) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friend….gagas tema itu penting meski kita gak urun rembug alias ikut kasih usul tema, tapi ya setor muka kek, meski ga donk, setidaknya ada support lah sama yang punya gawe…begitu juga dengan KCB (wah apa kabar nich KCB, aku jarang mendengar kabarmu!) hwe…hwe…hwe…..aku lagi-lagi teringat akan cerita alumni yang tadi ku singgung di atas. Beliaunya ketika masih jadi pemred sama denganku, pernah mengalami hal tersulit  bagaimana tidak, dia ditinggal para punggawanya. Hanya tersisa beberapa orang saja, waktu itu sich memang ada konflik internal, dan gesekan antar gerakan (sekarang sich sudah gak zaman kayak  begitu di EKSPRESI). Nah si beliau ini katanya lantas termenung, duduk di kursi (mungkin juga kursi buluk di EKSPRESI—hey apa kabarmu kursi buluk? Lama aku tak menyapamu..) menghadap jendela menatap ke luar, dan berpikir apa aku juga ikut pergi? Itu yang menggantung di pikiran pemred kita ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara lain misalnya, seperti acara ultah kemarin. Wah sedih juga lihatnya, meski aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jam 5 sore, aku dan hesti pulang dari perpus (weleh sok  rajin) tapi ngelihat kawan2 sedang mendekor, ah..iseng2 mampir weleh..Cuma segelintir..ya semoga lainnya sibuk di luar sana (nyiapin ultah tentunya) padahal ku ingat setahun kemarin, jam segitu tuch….aku masih di rental bro…ngurusin EKSPRESi awward yang blom di print…gila ga sich..acara malem, jam segitu baru ngeprint EKSPRESI award…pliss dech…… meski habis itu aku pulang sebentar, mandi, en agak terlambat dating ke lokasi….. yah namanya juga acara EKSPRESI, mau gak mau ketika itu pimpinan ya harus rela berpeluh keringat…keliling rental demi  mendapatkan dana yang murah tapi bagus..(hwekkk maksa). Meski kLu dipikir itu bukan tugasku dan hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di GBHO/GBHK gak ada tulisan jelas kalau tugas pemred dan PU itu ngeprint EKSPRESi Awward…. Hihihi…(besok tambahin yyyyaaa). Minimal support lah jadi gak ada yang merasa kerja sendiri, karena apapun event atau kegiatan yang diadakan EKSPRESI menurutku itu bukan kegiatan divisi atau kelompok tetapi itu adalah milik lembaga, dan lembaga EKSPRESI itu ada Redaksi, Perusahaan, PSDM, Jk, dan PH tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK..ini soal anak bandel, EXPEDISI. Wah apa kabarmu sayang?kemarin aku dapat EXPEDISI di luar EKSPRESI  lho..wah rasanya gimana gitu, habis biasanyakan ngembat di EKSPRESI..hihihi..a kebetulan aja waktu jalan di kampus lihat ada yang bagi2 EXPEDISI, ya aku minta aja J. Nah itu dia, konon EXPEDISI kali ini agak tersendat ya? Karena alasan teknis pula, selebihnya aku nggak tahu, karena itu yang aku dengar. Terus saja jadi anjing penjaga, yang setiap saat menjaga rumah, dan siap mbrakot bukan saja menggigit kalau-kalau ada penjahat atau penganggu. Lain kali jangan tersendat karena alasan teknis bro! banyak cara yang bisa dihalalkan kok. Sumpeh.. o iya aku punya pertanyaan..kenapa sich sentra kok jadi 2 halaman? Apa bedanya sentra sama tepi, padahal di mana-mana yang namanya sentra, setahu aku laporan utama (masihkan?) itu dapat porsi yang lebih besar ketimbang rubric lainnya, tapi kok..tapi kok…kenapa sich?       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah ndobos soal EKSPRESI ga bakal selesai-selesai. Ini masih uakeh tenan yang belum tertulis…yang pasti buat aku masa yang paliiiiiinggggg indah di EKSPRESI adalah masa ketika mengerjakan EXPEDISI, karena di sanalah kita bisa tahu kemampuan kita dan bisa tahu sifat kawan2 kita. Pascaexpedisi bagiku adalah hal terberat yang harus aku jalani di EKSPRESI, entah mungkin bagi sebagian orang tidak. Tapi bagiku iya, masa inilah masa terberat sampai akhir kepengurusanku kemarin. Ok maaf jika aku hanya bisa merefleksikan suara hatiku lewat surat, sejatinya ingin sangat aku pulang ke rumah cintaku membersamai kalian malam ini, tapi apa daya tanganku tak sampai, atau ini hanya egoku semata? Entahlah aku tak tahu, barangkali langit punya jawabnya, atau aku harus bertanya pada rumput yang bergoyang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK friend….segini dulu ya…..lain kali disambung lagi. Surat sebanyak 2000 kata lebih ini sebetulnya tidak cukup menjadi obat rinduku pada EKSPRESI tapi setidaknya aku bisa sedikit melepas kangenku pada EKSPRESI. OK Selamat berjuang terus setia di garis perjuangan tinta. Sukses buat EKSPRESI, aku tunggu launching buku, majalah, PAB, ORI, juga acara2 lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTW acara refleksi anggota penting lho..daripada semuanya selesai di MUSASI? Tumpahkan air mata dukamu di refleksi, tumpahkan kekesalanmu malam ini. Esok akan lepas dan hari baru menanti, melangkahlah dengan pasti. Aku sayang EKSPRESI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 26 April 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4819285746600884476-7968639919798815269?l=goresansaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://goresansaya.blogspot.com/feeds/7968639919798815269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4819285746600884476&amp;postID=7968639919798815269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7968639919798815269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4819285746600884476/posts/default/7968639919798815269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://goresansaya.blogspot.com/2007/04/surat-yang-kesekian-untuk-ekspresi.html' title=''/><author><name>huruf terakhir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02474345963214383218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
