Showing posts with label kenangan. Show all posts
Showing posts with label kenangan. Show all posts

Wednesday, August 27, 2014

Kok, Saya Kangen Liputan Ya...




Tidak terasa setahun sudah saya melipir dari Ibukota. Enggak lagi grasak grusuk liputan ke sana ke mari. Enggak lagi puyeng tiap Minggu malam sampai Senin pagi mikir,”Ada usulan apa ya minggu ini”.  Sudah setahun saya enggak lagi cari-cari agenda,”Si Bapak ini ada di mana hari ini, saya mau doorstop,”.  Atau menjelang dateline di hari Kamis malam atau Jumat siang, buru-buru mencari narasumber alternatif. Menyelesaikan naskah yang hanya satu halaman, agar Jumat pagi sudah bisa dilayout.  

Rutinitas yang begitu dinamis seolah tanpa jeda. Pernah suatu masa, setiap bangun pagi saya selalu mencari handphone, bukan hanya untuk melihat waktu, tetapi untuk mengecek sms atau email, ada agenda apa saja hari ini. Kemana saja harus melangkah hari ini. Hidup saya begitu dinamis, bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.  Seolah tak pernah ada jeda untuk sekadar membaca atau menulis untuk diri sendiri.  

Tapi saya suka dan menikmati hidup saya ketika itu. Pulang bekerja, ajakan kawan untuk sekadar menyesap kopi atau cokelat panas jarang saya tolak. Tertawa bersama, menertawakan kelakuan kami, narasumber, atau apa sajalah yang bisa membuat kami tertawa.  Bisa dipastikan sampai di kos saya sudah dalam kondisi kenyang, capek, dan tentu saja mengantuk. Pulang larut tak jadi soal, asal saya bisa happy dan melepas penat. Entah setelah itu pasti mikir lagi, wah ada pekerjaan yang belum selesai. Hehehehe.

Sebetulnya ini bukan kali pertama saya bilang,”Aku kangen liputan!” sudah sering. Bahkan sering juga kebawa mimpi hehehe. Nah, dua hari lalu kebetulan saya sedang online di facebook, setelah sekian lama vakum. Seorang kawan lama menyapa saya, dia mengabarkan kalau dia bekerja lagi di media. Kawan saya ini wartawan handal koran nasional, kemudian sempat bekerja sebagai PR dan sekarang kembali menjadi wartawan.

Yaa.. kami kembali nostalgia, dia bercerita meski posisinya sebagai editor dia harus kembali mengenali lapangan. Itu pasti, karena kondisi sekarang dan dulu dua atau tiga tahun lalu pasti berbeda. Kami juga berbincang tentnag pos liputan dulu, satu orang pegang tiga pos liputan. Dua sih deket, tetanggaan (Mabes-Kejaksaan Agung), tetapi satu lagi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Lumayan menyita waktu kalau harus bergeser dari Kejaksaan/Mabes ke PN Jaksel, apalagi kalau enggak ada tebengan hehehehe.

Memang kami berbincang sudah malam, karena mata sudah ketip-ketip dan saya sudah mulai kliyengan, saya tutup FB dan saya tidur. Nah... kebawa mimpiii . Dalam perbincangan kami itu teman saya bercerita, kalau dia kebobolan tiga berita, saya lupa apa saja tetapi yang saya ingat ada pemusnahan barang bukti BNN. Malamnya saya mimpi ada penyitaan barang bukti oleh KPK. Ceritanya gini, saya dan beberapa teman yang dulu sering bersama sedang asyik ngopi-ngopi sambil becandaan. Tiba-tiba melintas di depan kami motor-motor besar dan mobil mewah, nah yang bawa motor itu memakai rompi KPK. Seorang teman berteriak,” Wah penyitaan, telpon Johan,” tanpa menunggu instruksi kedua, segeralah si Jubir yang baik hati itu ditelpon. Dan setelah itu kami asyik dengan ketikan berita masing-masing. Setelah itu saya bangun.. hikss

Kangen saya juga dipicu oleh status teman-teman ketika 17 Agustus kemarin. Wkwkw banyak yang nostalgia, lalu update foto-foto lama. Secara otomatis foto-foto lain bisa dilihat. Hehehe. Bikin kangen kalau gitu ceritanya. 
Hidup saya kemarin, tujuh tahun terakhir itu memang begitu dinamis. Pernah bete? Ya pasti pernahlah...pernah ngeluh? So pasti..pernah bosen? Hhmm sering. Tapi saya percaya, hidup pasti berganti dan punya cerita masing-masing. Bukan perkara mudah bagi saya  untuk melepas rutinitas selama tujuh tahun terakhir. Tetapi saya menikmati setiap lembaran hidup yang saya jalani. 

Friday, July 25, 2008

Saya memutar lagu ini (lagi)

"Rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi..haruskah aku lari dari
kenyataan ini. Pernah ku mencoba tuk sembunyi namun senyummu tetap mengikuti."

Masih teringat dalam ingatan saya. Ketika kali pertama mendengar lagu ini di tape butut milik rektorat kampus. Dari sebuah kaset entah milik siapa. Lagu ini begitu memikat hati saya. Penyanyi legendaris, Iwan Fals, yang membawakannya. Entah mengapa saya menyukai lagu ini, sesuai dengan suasana hati ketika itu rasanya tidak. Tapi saya begitu menikmatinya. Sampai-sampai saya memutarnya tidak hanya sekali. Tak urung saya mendapat protes dari kawan-kawan, sebab saya terus mendengarkan tanpa membiarkan Bang Iwan menyanyikan lagu lainnya.
Seperti siang ini, ketika seorang diri di rumah. Bosan berceloteh dengan kawan di dunia maya. Sauya cari file lagu ini dan memutarnya kembali. Meski tak sesuai dengan suasana hati, tapi ya, siang ini saya ingin kembali mendengar alunan lagu ini. Cikal. putri Iwan Fals mengatakan, dalam sebuah acara TV beberapa tahun silam, lagu ini adalah lagu paling romantis ayahnya.
Entah kapan terakhir kali saya dengar lagu ini . Yang Terlupakan, judulnya, juga setia mengalun setahun silam. Tepatnya ketika merampungkan skripsi nada lembut ini setia menemani malam-malamku. Dulu, ketika masih aktif di pers kampus, saya kerap mendengar Bang Iwan bernyanyi. Bukan hanya Yang Terlupakan, tetapi lagu-lagu lainnya. Tak heran ketika mengadakan acara di luar kampus, seorang kawan selalu setia memetik gitar dan suara-suara sumbang menyanyikan lagu Bang Iwan.
Sayangnya, tahun-tahun terakhir saya di pers kampus, suara Bang Iwan makin jarang terdengar. Berganti dengan suara milik Ariel, Pasha, Maia, Baim, Once, Ian Kasela, dll (saya tidak hafal). Tidak jarang terdengar musik keras yang memekakkan telinga. Dan tak jelas apa yang dilantunkan. Zaman telah bergulir. Kegemaranpun mulai berubah. Beringan.
Kadang saya mendengarkan suara Once atau Pasha. Ehmm.. yang paling baru saya kerap pula mendengar suara miliki Afgan atau siapalah penyanyi baru yang makin bejibun. Tapi bagi saya karakter suara dan lagu mereka sama. Apalagi kalau tidak bicara soal cinta.
Lewat lagu Bang Iwan saya melihat karakter lain. Sangat kuat bahkan. Meski bicara cinta, dia tidak memnbosankan dan tidak mendayu-dayu atau membuat orang melayang. Banyak hal yang bisa saya kenang lewat lagu-lagu Bang Iwan. Termasuk kepada dua sahabat saya yang kerap berduet di jendela secretariat pers kampus. Satu memetik gitar , sementara satu lainnya berdendang. Lagu yang cukup absurd yang menyebutkan beberapa hewan kerbau, ular, tikus, dan harimau. Apa hubungan ketiganya? Tanya saja pada Bang Iwan. Ah, saya memang bukan kritikus musik. Tapi siang ini saya ingin memutar kembali lagu Bang Iwan. Itu saja.
Pernah kita sama-sama rasakan. Panasnya mentari hanguskan hati. Sampai saat kita nyaris tak berdaya. Bahawa roda nasib memang berputar. Sahabat masih ingatkah kau…