![]() |
Susi Pudjiastuti di tangga Istana Merdeka/istimewa |
Media sosial kembali geger.
Gara-garanya, setelah pelantikan media mulai melansir profil para menteri. Itu
wajar, sama ketika saya meliput pelantikan menteri tahun 2011 lalu.
Menteri-menteri yang dianggap ‘unik’ menjadi sasaran empuk media untuk di wawancara. Oktober 2011, mata saya tertuju pada sosok
Widjajono Partowidagdo. Pak Wid, demikian dia akrab disapa. Penampilan Pak Wid,
di minggu sore itu cukup menarik perhatian kami. Rambut gondrong, tas kumal,
dan penampilan yang cuek bebek.
Pak Wid kembali menjadi pusat
perhatian, ketika pelantikan dia masih dengan rambut gondrongnya yang dia
rapikan setelah didekati oleh Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi. Entah
apa yang Sudi bilang ketika itu, yang jelas dia merapikan rambut dan
membenarkan letak kopiahnya setelah Sudi mendekat. Usai pelantikan, saya
mendekati Pak Wid. Berbincang ringan dengannya. Ternyata Pak Wid seorang
pendaki gunung. Bahkan dia lupa berapa banyak gunung yang dia daki. Ketika itu
dia bilang, dalam waktu dekat dia akan mendaki Tambora. Dan ternyata itulah
yang menjadi pendakian dia terakhir.
![]() |
Pak Wid ketika pelantikan di Istana, Oktober 2011 |
Pak Wid, dulu disorot karena
penampilannya yang cuek. Ya, dia memang cuek. Saya memperhatikan detail kemeja
yang dia kenakan, bukan kemeja baru. Demikian pula dengan jas yang melekat.
Bukan jas baru yang kerahya masih kaku. Tas Pak Wid, yang sobek pun jadi
perhatian mata jurnalis ketika itu. Gaya dia cuek dan slengekan, banyak
komentar miriing padanya, “Orang gak rapi kok jadi wamen”. Dalam hati saya
bertanya, memang kerapian seseorang jadi ukuran prestasinya?
Menteri BUMN, Dahlan Iskan ketika
itu juga jadi sorotan. Dahlan yang
langsung melepas jasnya usai pelantikan, melepas dasi lalu disampirkan
di bahu, menggulung lengan baju, dan menyopiri sendiri mobil pribadinya. Oh iya
mobil Dahlan ketika itu tidak diparkir di halaman Istana negara, tetapi di
halaman gedung Sekretariat Negara.
Dahlan Iskan usai pelantikan. |
Entah bisa disamakan atau tidak,
kejadian berulang. Kali ini yang ketiban pulung Susi Pudjiastuti. Perempuan
pengusaha, sukses, dan sekarang jadi menteri. Bu Susi bertato dan merokok jadi
sorotan media usai pelantikan. Bukan itu saja, Bu Susi yang ‘hanya’ lulusan SMP
juga menjadi sorotan.. hufft lagi-lagi masyarakat kita terkonstruk dengan
pemikiran, bahwa kalau mau menjadi ‘orang’ haruslah punya pendidikan tinggi.
Padahal pada kenyataannya puluhan bahkan ratusan mereka yang bergelar sarjana
masih menganggur. Bisa jadi mereka yang mencibir Bu Susi adalah pengangguran. Ironis.
Publik pun heboh, semua berubah
menjadi ‘hakim moralitas’. Perempuan kok merokok, perempuan kok bertatto? Lulusan
SMP kok bisa jadi menteri? Ada yang salah? Salah karena dia menteri? Salah
karena dia merokok di Istana? Atau salah karena dia perempuan? Sedemikian
sakralnya kah Istana sampai-sampai orang tidak boleh merokok? Atau sedemikian
rendahnya lulusan SMP sampai-sampai dia tidak layak menjadi menteri.
Bahkan ada yang berkomentar,
perempuan harus kembali ke fitrahnya sebagai Ibu. Lagi-lagi harus menghela
nafas untuk yang macam begini. Fitrah apa? Fitrah yang mana? Bukankah sifat yang
tak bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan adalah hamil, melahirkan,
menyusui, menstruasi. Tetapi sifat-sifat lain itu bukannya masih bisa
dipertukarkan? Mengurus anak, memasak, bekerja di luar rumah, mendidik anak,
dll. Lalu fitrah manakah yang dimaksud?
Soal rokok saya juga tidak suka
sama rokok, tapi bukan berarti saya bisa seenak jidat melarang orang merokok.
Kecuali dia merokok dan menganggu saya, misal dia merokok di kendaraan umum, di
taman, di ruang ber-AC bisa-bisa tanduk saya langsung keluar. Tapi, saya tidak sepakat ketika rokok kemudian
dikait-kaitkan dengan posisi seseorang atau jabatan yang melekat pada diri
seseorang. Apalagi seorang perempuan. Saya punya banyak teman perempuan dan
perokok. Tapi saya tidak pernah protes pada mereka, kenapa mereka merokok. Saya
diamkan saja. Mereka pun memahami hal
itu, mereka akan tidak merokok di hadapan saya, atau mereka minta izin ketika
akan merokok Saya perempuan dan tidak merokok. Bukan karena saya perempuan,
saya tidak merokok tapi karena alasan kesehatan.
Pun saya tidak sepakat, ketika
Susi dibandingkan dengan Ratu Atut. Ada komentar, kalau Ratu Atut yang
berjilbab, rutin mengadakan pengajian, mengumrohkan orang tetapi akhirnya
terjerat korupsi. Bagi saya, agama tidak bisa dikaitkan dengan perilaku
seseorang. Itu dua hal berbeda yang tidak bisa disamakan. Sama ketika orang
mendiskreditkan Susi, bahwa sebagai menteri dia tidak bisa dijadikan contoh
karena rokok, tato, dan hanya berpendidikan SMP.
Jilbab sebagai simbol agama,
tidak bisa menjadi ukuran tindak-tanduk seseorang. Memang ketika seorang
perempuan muslim berjilbab sudah selayaknya dia bisa menjaga sikapnya. Tetapi,
ketika ada tindakannya yang keliru itu bukan salah jilbabnya tetapi pribadi
dia.
Muncul kekhawatiran bahwa nanti
anak-anak akan punya pemahaman bahwa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi toh jadi
bisa juga jadi menteri. Naaaahhh bukannya ini tugas dari pendidik, orangtua,
dan para sarjana yang mengaku berpendidikan itu untuk memberi penjelasan kepada
anak-anak. Soal merokoknya Bu Susi, juga tidak bisa serta merta disalahkan. Di
mana orangtua, pendidik, mendampingi anak-anak menonton televisi dan
mengkonsumsi berita? Kemana mereka? Asyik bermain facebook? Tangan tak pernah lepas dari gadget? Woi woi woi..
Pejabat pun seharusya juga
instropeksi. Bukan hanya Bu Susi, tetapi semua pejabat yang merasa sering merokok
di tempat umum bahkan di ruang kerjanya. Mereka lepas dari sorot kamera. Dan
setahu saya, ada etika kalau narasumber yang merokok seharusnya dikaburkan
gambarnya, dan tidak dipublish.
Bahkan kameraman sering meminta narasumber untuk mematikan rokoknya selama
wawancara berlangsung. Tiga tahun lalu, saya mewawancarai Susi di kediamannya. Seingat
saya ketika itu, juru kamera meminta Susi untuk mematikan rokoknya, sebelum
sesi wawacara dimulai. Dan membaca berita, Susi sempat meminta untuk wawancara
distop sementara, selama dia masih merokok. Pertanyaan saya kenapa Bu Susi yang kena? Kenapa
bukan pejabat yang berjenis kelamin laki-laki itu diserang soal rokoknya?
Soal pendidikan, Dahlan Iskan
mantan Menteri BUMN yang banyak diidolakan itu juga ‘hanya’ lulusan SMA. Tapi,
lihat dia mampu mengelola perusahaan koran terbesar di Indonesia. Bahkan, di
tangannya perusahaan setrum negara mengalami banyak perbaikan, di tangannya juga BUMN berbenah. Tapi kenapa
Dahlan Iskan tak pernah dipermasalahkan? Apa karena dia laki-laki dan Susi
perempuan?
No comments:
Post a Comment